MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

KORTAS TIPIDKOR SELIDIKI DUGAAN KORUPSI PENGADAAN GAS AIR MATA: VERSI TERBARU PERKEMBANGAN KASUS

Loading

Pendahuluan

Dugaan korupsi dalam pengadaan gas air mata kembali menjadi sorotan publik, setelah Indonesian Corruption Watch (ICW) mengungkap indikasi mark up sebesar Rp20 miliar dari total anggaran sebesar Rp99 miliar. Kasus ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan akuntabilitas proses pengadaan alat kepolisian yang digunakan untuk mengamankan massa. Kini, Kortas Tipidkor (Tim Investigasi Korupsi) sedang menyelidiki dugaan korupsi tersebut, dengan versi terbaru perkembangan kasus yang memicu perhatian lebih lanjut.

Temuan ICW dan Desakan kepada KPK

Menurut laporan ICW, ada dua proyek pengadaan gas air mata yang diduga terindikasi tindak pidana korupsi. Proyek pertama adalah Pepper Projectile Launcher Polda Metro Jaya dengan nilai proyek sebesar Rp49.860.450.000, sementara proyek kedua adalah Pepper Projectile Launcher Polda Metro Jaya Program APBN SLOG Polri TA 2023 dengan nilai proyek sebesar Rp49.920.000.000. Dari dua proyek tersebut, ICW menemukan adanya dugaan mark up sebesar 20 persen atau sekitar Rp20 miliar dari total anggaran yang dikeluarkan oleh Polri.

Selain itu, ICW juga menemukan petunjuk bahwa perusahaan pemenang tender memiliki afiliasi dengan anggota kepolisian. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan konflik kepentingan dalam proses pengadaan. Oleh karena itu, ICW mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk membuka secara terang benderang posisi kasus ini dan tidak menyerahkan perkara ke kepolisian.

Penjelasan dari Pihak Kepolisian

Perusahaan pemenang tender gas air mata dengan afiliasi kepolisian

Meskipun demikian, pihak kepolisian membantah dugaan korupsi tersebut. Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, menyatakan bahwa pengadaan gas air mata telah sesuai prosedur. Menurutnya, setiap proses pengadaan dilakukan dengan mengacu pada perundang-undangan dan aturan yang berlaku. Pengadaan tersebut melalui proses perencanaan kebutuhan, pemeriksaan, pengawasan, dan audit beberapa pihak baik internal hingga eksternal Korps Bhayangkara.

Namun, Trunoyudo juga mengapresiasi laporan dari lembaga antirasuah seperti ICW sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam memberikan kritik dan masukan untuk perbaikan kepolisian di masa depan. Ia menegaskan bahwa Polri selalu berkoordinasi dengan KPK dalam setiap proses kegiatan terkait pencegahan dan pemberantasan korupsi.

Proses Penanganan Laporan oleh KPK

KPK memverifikasi laporan dugaan korupsi pengadaan gas air mata

Sebelumnya, KPK menyatakan akan memproses setiap laporan atau pengaduan yang masuk. Juru Bicara KPK, Tessa Mahardhika Sugiarto, menjelaskan bahwa jika laporan lengkap dan layak, maka akan ditindaklanjuti ke tingkat penyelidikan. Namun, jika belum layak, pelapor akan diminta untuk melengkapi kekurangannya.

Saat ini, KPK masih dalam proses verifikasi laporan dugaan korupsi pengadaan gas air mata yang disampaikan oleh ICW pada 2 September 2024. Namun, hingga saat ini belum ada informasi terkini yang diberikan oleh KPK mengenai penanganan laporan tersebut.

Komentar dari Aktivis dan Masyarakat

ICW menuntut transparansi pengadaan gas air mata

Aktivis ICW, Wana Alamsyah, menyampaikan kekecewaannya terhadap kurangnya transparansi dari KPK dalam menangani laporan dugaan korupsi ini. Ia menegaskan bahwa publik tidak boleh dikompromi dalam proses pengadaan. “Jangan sampai kemudian proses pengadaan yang dilakukan kepolisian dari segi tata kelola ini tidak pernah diperbaiki hingga saat ini,” ujarnya.

Masyarakat sipil juga menuntut agar proses pengadaan gas air mata di lingkungan Polri diinvestigasi secara mendalam. Mereka berharap KPK dapat menindaklanjuti laporan ini dengan serius dan tidak menyerahkan kasus tersebut ke kepolisian.

Kesimpulan

Dugaan korupsi dalam pengadaan gas air mata yang dilakukan oleh Polri kembali menjadi isu yang memperkuat pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran negara. Meskipun pihak kepolisian membantah dugaan korupsi, ICW dan masyarakat sipil tetap menuntut investigasi yang jujur dan independen. KPK diharapkan dapat segera memberikan jawaban atas laporan yang telah disampaikan dan memastikan bahwa proses pengadaan alat kepolisian dilakukan secara benar dan bertanggung jawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *