MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

Kortas Tipidkor Polri Ungkap Pungli Rekrutmen Bintara di 3 Polda

Loading

Kortas Tipidkor Polri Ungkap Pungli Rekrutmen Bintara di 3 Polda

Pungutan liar (pungli) dalam proses rekrutmen anggota Polri kembali menjadi sorotan setelah Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengungkap praktik tersebut di tiga polda. Kasus ini menunjukkan bahwa meski telah ada upaya pemberantasan korupsi dan pungli, masih terdapat oknum yang tidak menjalankan tugasnya secara benar. Kortas Tipidkor Polri, yang merupakan bagian dari unit penindakan tindak pidana korupsi, telah melakukan investigasi mendalam dan mengungkap dugaan pungli dalam rekrutmen Bintara di tiga wilayah.

Penyelidikan Kortas Tipidkor Polri

Calon peserta rekrutmen bintara Polri

Kortas Tipidkor Polri, yang bertugas untuk menangani kasus korupsi, penyimpangan, dan tindak pidana lainnya, telah melakukan penyelidikan terhadap dugaan pungli dalam proses rekrutmen Bintara di tiga polda. Investigasi ini dilakukan sebagai respons atas laporan masyarakat dan aduan dari berbagai pihak yang merasa terganggu oleh praktik tidak sehat dalam sistem rekrutmen polisi.

Dalam laporan resmi yang dirilis, Kortas Tipidkor menyebutkan bahwa dugaan pungli terjadi pada proses seleksi calon Bintara di tiga polda, yaitu Polda Jawa Tengah, Polda Jawa Timur, dan Polda Kalimantan Timur. Dari hasil penyelidikan, ditemukan indikasi adanya penggunaan wewenang untuk meminta uang kepada calon peserta yang ingin masuk ke dalam institusi Polri.

[IMAGE: Kortas Tipidkor Polri pungli rekrutmen bintara di 3 polda]

Mekanisme Pungli dalam Rekrutmen Bintara

Dalam rekrutmen Bintara, calon peserta biasanya harus melewati beberapa tahapan seperti tes kesehatan, psikologi, dan ujian tertulis. Namun, di balik proses ini, terdapat praktik pungli yang melibatkan oknum petugas atau pejabat internal Polri. Dugaan pungli ini bisa berupa pembayaran uang tunai, barang, atau jasa kepada orang-orang tertentu agar calon peserta lolos seleksi.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa jumlah uang yang diminta bisa mencapai ratusan juta rupiah, tergantung dari tingkat kesulitan proses seleksi dan reputasi polda yang bersangkutan. Misalnya, di wilayah Jawa Timur, dugaan pungli bisa mencapai Rp 100 hingga Rp 200 juta. Hal ini membuat banyak keluarga calon peserta harus menjual aset seperti tanah, sapi, atau kebun untuk memenuhi permintaan uang tersebut.

Respons Kapolri dan Langkah Tegas

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo

Tidak hanya Kortas Tipidkor yang mengungkap dugaan pungli ini, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga telah memberikan peringatan keras terhadap oknum yang terlibat dalam praktik ini. Dalam beberapa kesempatan, ia menegaskan bahwa Polri akan menindak tegas siapa pun yang terbukti melakukan pungli, termasuk dengan pemecatan dan pemberian hukuman pidana.

Sebelumnya, Kapolri juga telah memerintahkan pemecatan lima oknum polisi Polda Jawa Tengah yang terlibat dalam kasus pungli. Ia menegaskan bahwa tidak ada ruang bagi pelaku pungli dalam institusi Polri. “Saya sudah perintahkan kepada Kapolda dan Kabid Propam berikan hukuman, kalau tidak di PTDH, proses pidana,” kata Sigit.

Tantangan Reformasi Kultural di Polri

Meski langkah tegas telah diambil, tantangan terbesar dalam membersihkan pungli adalah reformasi kultural di dalam tubuh Polri. Anggota Komisi III DPR RI, Safaruddin, menilai bahwa perubahan budaya kerja dan pola pikir internal Polri lebih sulit dibandingkan reformasi struktural. Ia menekankan pentingnya meningkatkan kesejahteraan aparat penegak hukum sebagai salah satu cara untuk mencegah praktik pungli.

“Kalau mungkin gajinya Rp 300 juta seumpamanya per orang, mau disogok juga enggak mau mungkin, seumpamanya. Nah ini kan ada hitung-hitungannya nanti. Nah, ketika dia memainkan kasus, pecat. Hukuman yang tegas, tetapi kesejahteraan harus ditingkatkan,” ujarnya.

Kesimpulan

Kasus pungli dalam rekrutmen Bintara di tiga polda menunjukkan bahwa korupsi dan praktik tidak sehat masih menjadi isu serius di dalam institusi Polri. Meskipun telah ada upaya pemberantasan, diperlukan komitmen yang lebih kuat dari seluruh elemen, baik dari pemerintah maupun masyarakat, untuk menciptakan sistem rekrutmen yang transparan dan adil. Dengan kombinasi tindakan tegas, reformasi kultural, dan peningkatan kesejahteraan, diharapkan Polri dapat kembali membangun citra yang baik di mata masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *