![]()
KPK Mulai Menyelidiki Kasus Korupsi Pembangunan Stadion Utama di Sumatera Barat
Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Barat dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kini sedang menyelidiki dugaan tindak pidana korupsi dalam pembangunan Stadion Utama di Provinsi Sumatera Barat. Kasus ini menarik perhatian masyarakat karena melibatkan anggaran besar dan proyek yang masih terhenti hingga saat ini.
Stadion Utama yang berada di Kabupaten Padang Pariaman ini dibangun sejak 2016 dengan pagu anggaran sebesar Rp7,2 miliar. Proyek tersebut dikerjakan oleh PT RMJ. Namun, hingga kini, progres pembangunan hanya mencapai sekitar 35%, sementara sisanya belum ada perkembangan akibat tidak adanya anggaran.
Indikasi Korupsi dalam Pekerjaan Stadion
Dari hasil penyidikan awal, ditemukan indikasi tindak pidana korupsi pada sejumlah item pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang direncanakan. Pihak kepolisian telah memeriksa sejumlah saksi dan mengamankan barang bukti terkait kasus ini. Namun, penentuan tersangka belum dilakukan karena menunggu hasil audit dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Menurut informasi yang diperoleh, kerugian negara diduga mencapai antara Rp400 juta hingga Rp500 juta. Angka ini akan ditentukan lebih lanjut setelah BPK menyelesaikan auditnya. “Kami tetap berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini,” ujar Kepala Satuan Reskrim Polres Pasaman Barat AKP Omri Sahureka.
Proses Penyelidikan yang Sedang Berlangsung

Selain pemeriksaan saksi dan pengumpulan barang bukti, pihak penyidik juga melakukan pengecekan fisik langsung ke lapangan serta audit fisik bersama Ahli Konstruksi. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah ada ketidaksesuaian dalam pekerjaan yang dilakukan oleh kontraktor.
Kasus ini juga menunjukkan bahwa proses penyelidikan KPK dan kepolisian sangat transparan. Mereka mengharapkan dukungan dari seluruh pihak, termasuk masyarakat, dalam pengusutan berbagai kasus dugaan tindak pidana korupsi yang terjadi.
Tantangan dalam Pembangunan Stadion
Proses pembangunan Stadion Utama Sumatera Barat menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah masalah anggaran. Hingga progres 35%, anggaran yang telah digunakan mencapai sekitar Rp460 miliar. Untuk menyelesaikan pembangunan, diperlukan tambahan dana sekitar Rp600 miliar hingga Rp700 miliar.
Namun, pembangunan terhenti karena tidak adanya anggaran. Awalnya, proyek ini dimulai sejak 2018 dengan pendanaan APBD secara bertahap. Namun, selama masa pandemi Covid-19, pembangunan terhenti sejenak karena anggaran dialihkan untuk penanganan krisis kesehatan.
Potensi Manfaat Ekonomi dari Stadion Utama

Meskipun pembangunan terhenti, Stadion Utama Sumatera Barat dirancang memiliki kapasitas tempat duduk sebesar 40.000 kursi dengan luas bangunan 48.454 m2. Selain sebagai arena pertandingan sepak bola, stadion ini juga dilengkapi fasilitas olahraga lainnya seperti lintasan.
Keberadaan stadion ini diharapkan memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Jika pembangunan selesai, stadion dapat menjadi pusat kegiatan olahraga dan pariwisata yang menarik minat wisatawan.
Harapan untuk Kelanjutan Pembangunan
Kepala Dinas Bina Marga Cipta Karya dan Tata Ruang (BMCKTR) Provinsi Sumbar Erasukma Munaf menyampaikan harapan agar ada dukungan anggaran dari DPRD Sumbar. Ia berharap pada tahun 2025 mendatang, anggaran untuk pembangunan lanjutan Stadion Utama Sumbar bisa disetujui.
“Kami berharap betul ada dukungan dan kerjasama dengan DPRD Sumbar,” katanya. “Semoga pada tahun 2025 mendatang anggaran untuk pembangunan lanjutan Stadion Utama Sumbar itu bisa disetujui.”












Leave a Reply