MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

8 TAHUN LUKA TEROBATI DENGAN TANGAN TUHAN DAN HATI YANG TULUS, KADES ATE DALO DAMAIKAN KONFLIK TANAH DI KODI

Loading

MabesNEWS.tv, SUMBA BARAT DAYA NUSA TENGGARA TIMUR.kecamatan kodi,Sabtu 22 Agustus 2026.Air mata haru pecah di Dusun 1 Kampung Rannu, Desa Ate Dalo, Sabtu 22 Agustus 2026. Setelah 8 tahun menjadi duri dalam daging warga, konflik tanah antara Keluarga Besar Hermanus Lere Dara dan Agus Rangga Mone akhirnya resmi berakhir dengan jabat tangan damai.

Mediasi akbar ini dihadiri langsung oleh Camat Kodi Benyamin Kaka, bersama jajaran staf kecamatan, perwakilan Kapolsek Kodi, serta TNI/Babinsa Kodi.

Dalam sambutannya, Camat (Benyamin kaka)menegaskan damai ini lahir dari hati, bukan paksaan.Perdamaian ini harus kita jaga. Ini bukti bahwa dengan rasa kekeluargaan, tidak ada masalah yang terlalu besar untuk diselesaikan bersama, tegasnya.

Ini Soal Hati, Bukan Sekadar Tanah

Bagi warga, putusan hari ini lebih dari sekadar batas tanah. Ini tentang pulihnya silaturahmi.

Ini bukan hanya soal tanah. Ini soal hati. Soal kita bisa duduk makan bersama lagi sebagai satu keluarga besar di Ate Dalo, ujar Kades Petrus di hadapan ratusan warga yang memadati lokasi.

Perjuangan Petrus tidak mudah. Pertemuan demi pertemuan, musyawarah hingga larut malam ia jalani. Di lapangan, ia digandeng erat oleh,Martinus Rehi Katoda, Kepala Dusun Ate Dalo Dusun 1 Rannu, yang setia menjembatani komunikasi agar proses tetap dingin dan bermartabat.

Terima kasih atas kerja kerasnya Bapak Kepala Desa. Beliau berjuang dari awal sampai akhir. Tidak pernah lelah mendengar, menengahi, dan mendoakan agar keluarga kami kembali bersaudara, kata Dominggus, warga Desa Ate Dalo dengan suara bergetar.

Terima kasih juga kepada Pak Kadus Martinus. Tanpa bantuan beliau di lapangan, mungkin kami belum sampai di titik ini.

Hari ini tidak ada lagi pagar yang memisahkan. Tidak ada lagi kata yang menyakitkan. Yang tersisa hanya doa syukur dan harapan agar Desa Ate Dalo kembali seperti dulu: rukun, guyub, dan saling menjaga.

Di tengah dunia yang sering melupakan nilai kekeluargaan, kisah di Kampung Rannu ini menjadi bukti. Bahwa kepemimpinan sejati adalah yang mau turun, mendengar, dan berjuang sampai tetes terakhir demi rakyatnya.

 

Penulis: Dominggus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *