MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

RADIO RIMBA RAYA

Loading

Epos Sejarah

 

L. K. Ara

 

I. SUARA DARI RIMBA

1

Di tengah hutan yang jauh dari kota,

sebuah suara sedang mencari Indonesia.

2

Bukan suara dari istana,

melainkan suara dari rimba.

3

Bukan dari gedung yang tinggi,

tetapi dari tanah yang sunyi.

4

Di antara pohon dan batu,

sejarah menyalakan lampu.

5

Sungai mengalir membawa kabar,

angin mengantar suara ke utara.

6

Burung-burung meninggalkan sarang,

seakan tahu negeri sedang berperang.

7

Gunung berdiri menjadi saksi,

Republik belum boleh mati.

8

Di sebuah tempat yang sederhana,

mikrofon menjadi senjata.

9

Antena ditanam ke bumi,

harapan ditanam di hati.

10

Listrik mungkin kecil dayanya,

tetapi besar nyalanya bagi bangsa.

 

11

 

Dari rimba suara berangkat,

menembus malam yang pekat.

 

12

 

Gelombangnya melintasi bukit,

mencari dunia yang masih sedikit.

 

13

 

Ada yang mendengar dari jauh,

ada yang bertanya dengan penuh resah.

 

14

 

Apakah Indonesia masih ada?

Pertanyaan itu mengguncang dunia.

 

15

 

Maka rimba membuka mulutnya,

dan Republik menjawab melalui udara.

 

16

 

“Jangan mengira kami telah hilang,

kami masih berdiri di tengah perang.”

 

17

 

Suara itu sederhana,

tetapi mengguncang penjajah.

 

18

 

Sebab sebuah bangsa bukan hanya tanah,

bangsa adalah suara yang tak menyerah.

 

19

 

Ketika kota kehilangan cahaya,

hutan menyalakan berita.

 

20

 

Ketika ibu kota dikuasai lawan,

rimba menjadi ibu kota perlawanan.

 

21

 

Di sana tidak ada istana,

hanya pepohonan dan manusia.

 

22

 

Tidak ada karpet merah,

hanya tanah basah dan langkah.

 

23

 

Tidak ada singgasana,

hanya meja dan peralatan sederhana.

 

24

 

Namun dari meja kecil itu,

sejarah bergerak menuju dunia.

 

25

 

Radio menjadi jembatan,

antara Republik dan harapan.

 

26

 

Suara menjadi perahu,

menyeberangi laut yang tak tentu.

 

27

 

Pesan menjadi burung,

terbang membawa kabar perjuangan.

 

28

 

Gunung menjadi menara,

hutan menjadi ruang bicara.

 

29

 

Dan manusia-manusia pemberani,

menjadi penjaga republik ini.

 

30

 

Malam semakin gelap,

tetapi suara tidak pernah senyap.

 

31

 

Di kejauhan terdengar sungai,

di dekat mikrofon orang berjaga.

 

32

 

Mereka tahu setiap kata

bisa menentukan nasib bangsa.

 

33

 

Satu kalimat bisa menjadi bukti,

bahwa Indonesia belum mati.

 

34

 

Satu siaran bisa menjawab,

propaganda yang sedang menguap.

 

35

 

Penjajah berkata Republik runtuh,

rimba berkata: belum.

 

36

 

Penjajah berkata pemimpin ditawan,

rimba berkata: perjuangan berlanjut.

 

37

 

Penjajah berkata perang selesai,

rimba berkata: bangsa belum usai.

 

38

 

Maka mikrofon dinyalakan,

dan kebenaran diperdengarkan.

 

39

 

Suara itu menembus malam,

seperti doa menuju alam.

 

40

 

Tidak ada peluru di udara,

hanya gelombang suara.

 

41

 

Tetapi kadang suara lebih tajam

daripada pedang yang terhunus dalam diam.

 

42

 

Sebab peluru dapat menghancurkan tubuh,

tetapi suara dapat menyelamatkan seluruh sejarah.

 

43

 

Radio Rimba Raya,

engkau lahir dari keadaan yang tak biasa.

 

44

 

Engkau lahir ketika bangsa terluka,

ketika tanah air kehilangan suara.

 

45

 

Engkau tumbuh di tengah pepohonan,

tetapi jangkauanmu melampaui lautan.

 

46

 

Dari Aceh engkau berbicara,

kepada Indonesia dan dunia.

 

47

 

Takengon menyimpan jejakmu,

rimba menjadi rumah perjuanganmu.

 

48

 

Tanah Gayo menjadi saksi,

suara Republik pernah bersembunyi.

 

49

 

Di balik kabut pegunungan,

tersimpan keberanian.

 

50

 

Di antara dingin dan sunyi,

ada manusia menjaga negeri.

II. KETIKA REPUBLIK TERANCAM

 

51. Tahun-tahun itu penuh kecemasan,

langit Indonesia dipenuhi ancaman.

 

52. Perang belum benar-benar selesai,

meski sebagian dunia mengira demikian.

 

53. Kemerdekaan telah diproklamasikan,

tetapi kemerdekaan harus dipertahankan.

 

54. Merah Putih telah dikibarkan,

tetapi Merah Putih terus dipertaruhkan.

 

55. Ada kekuatan ingin kembali,

membawa penjajahan ke negeri ini.

 

56. Ada propaganda disebarkan,

agar dunia percaya Republik telah padam.

 

57. Maka bangsa membutuhkan suara,

yang berkata apa adanya.

 

58. Bukan suara kebencian,

melainkan suara kebenaran.

 

59. Bukan suara kesombongan,

melainkan suara keteguhan.

 

60. Radio menjadi mata yang terbuka,

ketika banyak mata dipaksa tertutup.

 

61. Radio menjadi telinga bangsa,

mendengar langkah dunia.

 

62. Radio menjadi lidah Republik,

berbicara ketika keadaan pelik.

 

63. Dan rimba menjadi benteng,

yang tak mudah ditemukan musuh.

 

64. Pohon-pohon menjadi dinding,

kabut menjadi tirai pelindung.

 

65. Sungai menjadi jalan rahasia,

gunung menjadi penjaga.

 

66. Di sana manusia belajar,

bahwa tanah air harus dirawat.

 

67. Bukan hanya dengan senjata,

tetapi juga dengan kata.

 

68. Sebab kemerdekaan membutuhkan suara,

agar dunia tahu siapa kita.

 

69. Jika sejarah hanya ditulis oleh pemenang,

maka suara rakyat bisa menghilang.

 

70. Tetapi radio mencatat melalui udara,

apa yang terjadi pada bangsa.

 

71. Setiap siaran adalah kesaksian,

setiap berita adalah pertahanan.

 

72. Setiap suara yang keluar,

menjadi bagian dari sejarah.

 

73. Mereka tidak mempunyai studio megah,

tetapi mempunyai tekad yang indah.

 

74. Mereka tidak mempunyai gedung tinggi,

tetapi mempunyai keberanian di hati.

 

75. Mereka tidak mempunyai kemewahan,

tetapi mempunyai keyakinan.

 

76. Bahwa Indonesia harus tetap ada,

bukan hanya dalam peta.

 

77. Indonesia harus hidup dalam suara,

dalam ingatan dan cita-cita.

 

78. Maka hutan pun menjadi halaman,

tempat Republik menulis perlawanan.

 

79. Daun-daun menjadi atap,

tanah menjadi tempat berpijak.

 

80. Batu-batu menjadi kursi,

dan langit menjadi saksi.

 

81. Tidak ada kemewahan di sana,

hanya kebutuhan untuk menjaga negara.

 

82. Mereka tahu musuh mencari,

mereka tahu bahaya mengintai.

 

83. Namun ketakutan tidak boleh

mematikan suara Republik.

 

84. Sebab bila suara berhenti,

dunia bisa salah mengerti.

 

85. Bila siaran terputus,

propaganda bisa menjadi kabar.

 

86. Bila kebenaran tidak terdengar,

kebohongan bisa dianggap benar.

 

87. Karena itu mereka bertahan,

meski malam semakin panjang.

 

88. Mereka menjaga peralatan,

seperti menjaga jantung kehidupan.

 

89. Mereka menjaga antena,

seperti menjaga tiang bendera.

 

90. Mereka menjaga gelombang,

seperti menjaga napas bangsa.

 

91. Dan setiap kali lampu menyala,

harapan ikut menyala.

 

92. Setiap kali mikrofon dibuka,

Republik kembali berbicara.

 

93. Setiap kali suara terdengar,

Indonesia kembali hadir.

 

94. Bukan melalui meriam,

tetapi melalui gelombang.

 

95. Bukan melalui gedung,

tetapi melalui udara.

 

96. Bukan melalui kekuasaan,

tetapi melalui kebenaran.

 

97. Begitulah sejarah kadang bekerja,

diam-diam dari tempat yang sederhana.

 

98. Yang kecil bisa menjadi besar,

bila dijalankan dengan benar.

 

99. Yang sunyi bisa menjadi suara,

bila membawa nasib bangsa.

 

100. Dan dari rimba yang jauh itu,

Indonesia berbicara kepada dunia.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *