![]()
MabesNews.tv, Pertama, saya ingin menegaskan bahwa saya tidak sedang berbicara sebagai tokoh agama. Saya hanyalah masyarakat biasa yang peduli terhadap kehidupan keluarga dan pelaksanaan adat di Kodi.
Tulisan ini merupakan pandangan sekaligus harapan saya sebagai bagian dari masyarakat.
Setiap kali membicarakan pesta adat di Kodi, perhatian kita sering tertuju kepada pemerintah dan para tokoh adat. Padahal, tokoh agama juga memiliki peran penting. Mereka mendampingi masyarakat, mendengar pergumulan keluarga, serta memberikan nasihat dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, persoalan beban biaya pesta adat juga perlu mendapat perhatian dari tokoh agama.
Pertanyaan saya sederhana: Bagaimana tokoh agama memandang keadaan keluarga yang harus berutang demi memenuhi tuntutan pesta? Bagaimana mereka mendampingi orang tua yang ingin menghormati adat, tetapi juga harus membayar biaya sekolah anak, memenuhi kebutuhan makan, dan menyiapkan biaya kesehatan?
Saya tidak sedang mengatasnamakan pandangan seluruh tokoh agama. Saya ingin mengajak kita bersama-sama memikirkan bagaimana pendampingan mereka dapat membantu keluarga menghadapi persoalan ini.
## MENGHORMATI ADAT SEKALIGUS MENDENGARKAN KESULITAN KELUARGA
Sebagai orang Kodi, saya memahami bahwa pesta adat memiliki arti penting. Ada hubungan kekeluargaan yang dijaga, penghormatan kepada leluhur, serta kebiasaan saling membantu.
Tokoh agama perlu memahami makna tersebut ketika mendampingi masyarakat.
Namun, penghormatan terhadap adat juga perlu disertai kesediaan untuk mendengarkan kesulitan keluarga.
Jika ada umat yang berkata, “Kami sebenarnya tidak sanggup, tetapi malu kalau tidak mengikuti tuntutan keluarga,” suara tersebut harus ditanggapi dengan serius.
Jangan sampai mereka dinasihati untuk hidup bijaksana, tetapi dibiarkan menghadapi tekanan tersebut seorang diri.
Menurut saya, di sinilah diperlukan *ethical discernment*, yaitu pertimbangan moral yang memperhatikan dampak suatu keputusan terhadap kehidupan manusia.
Tokoh agama dapat membantu keluarga menimbang kewajiban adat bersama tanggung jawab terhadap anak, pasangan, serta anggota keluarga yang membutuhkan perawatan.
## KEBERSAMAAN PERLU MENJADI PERTOLONGAN YANG NYATA
Dari sisi sosial, pesta adat memiliki kekuatan berupa social solidarity, atau solidaritas sosial. Kerabat datang membantu, memberikan tenaga, membawa makanan, dan ikut menanggung kebutuhan acara.
Nilai tersebut patut dijaga karena membuat keluarga merasa didukung.
Namun, kita juga perlu jujur ketika bantuan mulai terasa berubah menjadi tekanan.
Misalnya, keluarga merasa harus membalas pemberian dalam jumlah yang tidak sanggup mereka penuhi, atau merasa takut dihina karena membawa hewan yang dianggap terlalu kecil.
Dalam keadaan seperti ini, *reciprocity*, atau pertukaran timbal balik, dapat berubah menjadi beban.
Tokoh agama dapat mengajak masyarakat menjaga semangat membantu sesuai kemampuan. Orang yang datang dengan tenaga dan perhatian tetap perlu dihargai. Keluarga yang hanya mampu memberikan sedikit juga tidak pantas direndahkan.
Jika orang sampai takut hadir karena tidak memiliki sesuatu untuk dibawa, berarti ada hubungan sosial yang perlu kita perbaiki bersama.
## MEMBANTU KELUARGA MENGHADAPI RASA MALU DAN TEKANAN SOSIAL
Salah satu beban yang sulit dihadapi adalah social pressure, atau tekanan sosial.
Ada keluarga yang memahami keterbatasan ekonominya, tetapi tetap memaksakan pesta karena takut menjadi bahan pembicaraan. Ada pula yang ingin menyampaikan keberatan, tetapi khawatir dianggap tidak menghormati orang tua atau keluarga besar.
Dalam keadaan seperti ini, nasihat “jangan berutang” saja belum tentu cukup.
Keluarga juga membutuhkan dukungan ketika berhadapan dengan harapan kerabat. Mereka perlu didampingi agar dapat menyampaikan keadaan secara jujur sekaligus tetap menjaga hubungan baik.
Kalimat, “Kami ingin menjalankan adat, tetapi kemampuan kami hanya sampai di sini,” seharusnya dapat diterima tanpa penghinaan.
Tokoh agama dapat membantu membangun penerimaan tersebut melalui pengajaran, percakapan keluarga, serta teladan dalam kehidupan sehari-hari.
## MEMBUKA DIALOG DENGAN TOKOH ADAT
Menurut saya, tokoh agama dan tokoh adat perlu duduk bersama.
Tokoh adat memahami makna serta tata cara upacara, sedangkan tokoh agama dapat menyampaikan pergumulan keluarga yang mereka dampingi. Keduanya dapat saling melengkapi dalam mencari jalan keluar.
Dialog harus menghormati penganut Marapu dan masyarakat dengan keyakinan lainnya. Perbedaan keyakinan jangan menjadi alasan untuk merendahkan suatu upacara.
Semua pihak perlu memiliki ruang untuk menjelaskan nilai yang mereka pegang serta kesulitan yang mereka hadapi.
Dari sana dapat dibicarakan bagian upacara yang dianggap pokok, bentuk jamuan yang dapat disesuaikan, serta pembagian biaya yang tidak memaksa.
Kesepakatan perlu lahir melalui musyawarah bersama masyarakat pemilik adat agar dapat diterima dan dijalankan.
## PENDAMPINGAN PERLU DIMULAI SEBELUM PESTA
Dalam lingkungan gereja, *pastoral care*, atau pendampingan pastoral, dapat dimulai sejak keluarga merencanakan acara. Pada komunitas agama lain, pendampingan serupa dapat dilakukan sesuai dengan bentuk pelayanan masing-masing.
Keluarga dapat diajak membicarakan kebutuhan acara, sumber biaya, bantuan yang benar-benar tersedia, serta pengaruh pengeluaran terhadap kehidupan setelah pesta.
Jangan sampai keputusan bergantung pada janji bantuan yang belum pasti, sementara utang langsung menjadi tanggungan keluarga.
Percakapan ini perlu melibatkan pasangan dan anggota keluarga yang menanggung biaya. Suara perempuan, anak muda, serta anggota keluarga dengan penghasilan terbatas juga harus didengar.
Jangan sampai keputusan dibuat oleh beberapa orang, tetapi bebannya ditanggung oleh mereka yang tidak diberi ruang untuk berbicara.
Bagi keluarga yang sudah telanjur berutang, pendampingan tetap diperlukan tanpa mempermalukan mereka.
Mereka membutuhkan tempat untuk bercerita, bantuan dalam membuka komunikasi keluarga, serta dukungan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan komunitas.
## MENGAJARKAN KESEDERHANAAN MELALUI KETELADANAN
Tokoh agama memiliki pengaruh melalui ucapan dan tindakan. Jika mereka mengajarkan kesederhanaan, sikap tersebut juga perlu terlihat dalam acara yang mereka selenggarakan atau dukung.
Menurut saya, lembaga keagamaan juga perlu mengevaluasi tuntutan biaya dalam kegiatan mereka sendiri.
Jangan sampai masyarakat diminta mengurangi beban pesta adat, tetapi pada saat yang sama merasa tertekan oleh sumbangan atau kegiatan keagamaan yang melampaui kemampuan.
Prinsip menghargai keadaan keluarga harus berlaku secara konsisten.
Keluarga yang memilih acara sederhana perlu menerima penghormatan yang sama. Kehadiran, doa, dan perhatian tokoh agama dapat memberikan penguatan bahwa mereka tetap diterima dan dihargai.
## MENEMPATKAN KEBUTUHAN ANAK DAN KELUARGA SEBAGAI PERHATIAN BERSAMA
Anak membutuhkan pendidikan, makanan yang cukup, dan lingkungan rumah yang tenang. Anggota keluarga yang sakit membutuhkan perawatan.
Kebutuhan tersebut harus diperhitungkan sejak awal ketika keluarga merencanakan pesta.
Di sini terdapat persoalan *opportunity cost*, yaitu manfaat dari pilihan lain yang harus dilepaskan ketika sumber daya digunakan untuk suatu keperluan.
Jika tabungan dihabiskan untuk pesta, keluarga perlu memahami kebutuhan apa yang akhirnya tertunda dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan mereka.
Tokoh agama dapat membantu masyarakat membicarakan pilihan tersebut tanpa menghakimi.
Mengurus pendidikan anak, menjaga kesehatan, dan memenuhi kebutuhan rumah tangga merupakan tanggung jawab moral yang layak mendapat perhatian.
## MENDORONG KESEPAKATAN BERSAMA PEMDA DAN DPRD
Tokoh agama dapat menyampaikan gambaran persoalan yang mereka temui kepada Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya dengan tetap menjaga kerahasiaan keluarga yang mereka dampingi.
Pengalaman tersebut penting agar pembahasan kebijakan dapat berangkat dari keadaan nyata di tengah masyarakat.
Bersama tokoh adat dan warga, mereka dapat mendorong kesepakatan agar sumbangan tidak dipaksakan, keluarga yang memilih acara sederhana tidak dipermalukan, dan pembiayaan dibicarakan secara terbuka sejak awal.
Pemerintah perlu memfasilitasi proses tersebut serta memberikan ruang yang nyata kepada masyarakat dalam menentukan kesepakatan.
Keberhasilan upaya ini perlu dilihat dari kehidupan keluarga.
Apakah mereka lebih berani menyampaikan kemampuan? Apakah tekanan berkurang? Apakah kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi setelah pesta?
Hal-hal tersebut yang perlu diperhatikan bersama.
## ADAT, AGAMA, DAN KEHIDUPAN KELUARGA
Bagi saya, tokoh agama memiliki peran penting sebagai tempat masyarakat mencari penguatan ketika menghadapi tuntutan adat dan keterbatasan ekonomi.
Peran tersebut membutuhkan kesediaan untuk mendengar, keberanian untuk berdialog, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya berharap keluarga Kodi dapat menjalankan adat dengan penuh hormat dan tetap hidup tenang setelah pesta selesai.
Tokoh agama, tokoh adat, pemerintah, dan masyarakat perlu bekerja bersama agar kebersamaan yang kita banggakan benar-benar menjadi pertolongan bagi keluarga, bukan justru menjadi beban yang harus mereka tanggung bertahun-tahun setelah pesta berakhir.
Sumber informasi: Anis Ole
Jurnalis: Martinus Kondo












Leave a Reply