MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

ITB-USU-USK Rekonstruksi Sistem Penyediaan Air Bersih Pascabencana di Sumatera

Loading

Mabesnews.tv-Medan-Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Sumatera Utara (USU) .Medan dan Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh melakukan rekontruksi sistem penyediaan air bersih pascabencana banjir Sumatera untuk Pemulihan Layanan Dasar dan Penguatan Resiliensi di Aceh danbSumatera Utara.

“Kami dari ITB, USU dan USK berkolaborasi melakukan rekonstruksi sistem penyediaan air bersih pascabencana banjir bandang Sumatera beberapa waktu lalu,” ujar Dr re.nat.Widodo,ST,MT dari ITB Bandung kepada media ini di Medan, Rabu 2/9/2026.

Seperti diketahui lanjutnya, dampak banjir bandang dan tanah longsor di beberapa daerah termasuk Aceh, Sumatera Utara, dan wilayah lain pada tahun 2025 telah merusak infrastruktur dasar desa, termasuk sistem air bersih.

“Akibat bencana tersebut masih dirasakan oleh masyarakat hingga saat ini. Bayangkan kerusakan yang terjadi tidak hanya bersifat fisik (sumur runtuh, pompa dan
jaringan distribusi rusak), tetapi juga menurunkan kualitas air melalui kontaminasi mikrobiologis,” jelas Widodo yang bertindak sebagai ketua didampingi Dr.Eng.Taufiq Bin Nur, S.T., M.Eng.Sc. dari USU dan Prof. Dr. Syarizal Fonna, S.T., M.T. .dari USK Banda Aceh.

Dia menyebutkan bahkan meningkatnya kekeruhan, serta tercemarnya akuifer dangkal. Akibatnya, warga kehilangan akses air bersih lebih lama. Bukan hanya risiko penyakit berbasis air meningkat, tapi juga pemulihan sosial ekonomi desa terhambat.

Bukankah banjir besar itu menyebabkan genangan air di mana-mana dan arus banjir mencemari sumur dangkal termasuk merusak instalasi pompa serta pipa, bahkan mengganggu pelindung
sumur akibat erosi dan sedimentasi.

“Kondisi tersebut seperti di Aceh Tamiang (Desa Kampung Pahlawan, Karang Baru)
dan Langkat, Sumatera Utara (Desa Paya Perupuk, Kecamatan Tanjung Pura),* kata Widodo,.merincikan.

Karena itu, menurutnya rehabilitasi yang hanya bersifat parsial, sekadar memperbaiki sumur atau mengganti pompa, dinilai tidak memadai untuk menghadapi kejadian ekstrem yang berulang di wilayah yang rawan banjir.

Itu sebabnya untuk menjawab kebutuhan tersebut, dilakukan program pengembangan Model Rehabilitasi Infrastruktur Air Bersih Adaptif Bencana melalui kolaborasi antara Dr.rer.nat. Widodo, S.T., M.T. dari Institut Teknologi Bandung (ITB) sebagai ketua, Dr.Eng.Taufiq Bin Nur, S.T., M.Eng.Sc. dari Universitas Sumatera Utara (USU), dan Prof. Dr. Syarizal Fonna, S.T., M.T. dari Universitas Syiah Kuala (USK) Melalui Kegiatan Pengabdian Masyarakat Kolaborasi Indonesia (PMKI) 24 PTNBH tahun 2026.

Kegiatan pengabdian ini menekankan pendekatan terintegrasi berbasis data ilmiah bawah permukaan, desain infrastruktur adaptif, dukungan energi berkelanjutan, serta penggunaan material tahan bencana.

Kegiatan ini ditargetkan untuk memberikan manfaat langsung bagi 100 lebih
kepala keluarga (KK) per desa melalui penyediaan sumber air bersih yang layak, berkelanjutan, dan mudah diakses, sekaligus memperkuat kapasitas melalui keterlibatan mahasiswa.

Program ini juga diharapkan menjadi referensi replikasi nasional dalam rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur
dasar desa di kawasan rawan bencana, sekaligus meningkatkan ketahanan sosial-ekologi serta mendorong keberlanjutan pembangunan desa.

Dalam implementasinya, tim melakukan penguatan sistem melalui survei kondisi awal, pemetaan risiko (ketinggian genangan, arah aliran banjir, dan potensi erosi), serta penyusunan standar operasional pemeliharaan pascabencana bersama aparat desa dan kader masyarakat.

Selain perbaikan teknis, dilakukan juga edukasi pengelolaan air, cara penanganan jika kualitas menurun (misalnya peningkatan kekeruhan), serta pembentukan mekanisme tanggap darurat di tingkat warga.

Pendampingan difokuskan agar perangkat dapat tetap berfungsi selama masa pemulihan, termasuk pengamanan titik sumber dari limpasan, penguatan struktur pelindung, dan pengaturan jaringan agar
aliran tidak mudah tersumbat atau bocor saat debit air meningkat.

“Dengan demikian, rehabilitasi tidak
hanya memulihkan layanan, tetapi juga mengurangi kerentanan jangka panjang. Saat ini, sistem penyediaan air bersih yang telah dihasilkan berfungsi dengan baik dan sesuai yang direncanakan,” pungkas Dr rer.nat.Widodo,ST,MT.(tiar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *