![]()
L K Ara
Ibu Illiza,
Izinkan seorang pengarang tua
menulis surat
kepada seorang perempuan
yang sedang memegang
sebagian amanah sejarah.
Saya tidak menulis surat ini
untuk meminta jabatan.
Bukan pula
untuk meminta kursi.
Saya hanya ingin berbicara
tentang orang-orang
yang sepanjang hidupnya
memelihara kata,
tetapi sering lupa
dipelihara oleh negerinya.
Mereka adalah
pengarang Aceh.
⸻
I
KAMI SELALU DATANG KETIKA NEGERI MEMBUTUHKAN KATA
Ibu Illiza,
setiap kali Aceh
membutuhkan kata-kata,
kami dipanggil.
Ketika hari besar datang,
kami diminta membuat puisi.
Ketika tamu penting datang,
kami diminta membaca syair.
Ketika sejarah diperingati,
kami diminta mengingat.
Ketika sebuah kota
ingin disebut berbudaya,
kami diminta hadir
di atas panggung.
Kami datang.
Kami selalu datang.
Dengan kemeja yang mungkin
sudah beberapa kali dijahit.
Dengan sepatu
yang telah berjalan
dari satu acara
ke acara yang lain.
Dengan buku
yang belum tentu
mampu membayar
harga beras sebulan.
Kami datang.
Kami membaca.
Orang bertepuk tangan.
Lampu padam.
Acara selesai.
Lalu—
kami pulang.
⸻
II
SETELAH TEPUK TANGAN
Di sinilah, Ibu,
persoalannya.
Tepuk tangan
tidak dapat dibawa
ke pasar.
Piagam
tidak dapat dimasak
menjadi nasi.
Piala
tidak dapat membayar
tagihan listrik.
Dan kata Maestro
kadang terdengar
begitu indah,
tetapi begitu sunyi
ketika seorang pengarang
sedang memikirkan
bagaimana hidup
sampai akhir bulan.
Saya tidak mengatakan
pengarang harus kaya.
Tidak.
Tetapi jangan pula
kemiskinan
dijadikan syarat
untuk menjadi penyair.
Jangan kita terlalu lama
meromantiskan
pengarang yang susah.
Sebab orang yang lapar
memang dapat menulis puisi.
Tetapi sebuah bangsa
tidak berhak
membiarkan penyairnya lapar
demi mendapatkan
puisi yang indah.











Leave a Reply