![]()
MABESNEWS.TV — SUMBA BARAT DAYA, NUSA TENGGARA TIMUR, Ada duka yang tidak cukup diungkapkan dengan air mata. Ada kehilangan yang membuat sebuah keluarga seolah kehilangan arah karena seseorang yang selama ini menjadi bagian dari harapan mereka tiba-tiba pergi untuk selama-lamanya.
Peristiwa tragis yang menimpa Selviana Ambu Kaka (24) di Kali Bondo Kodi, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan duka mendalam. Selviana meninggal dunia setelah diduga diterkam buaya saat mandi di kali tersebut pada Jumat (23/10/2026) malam.
Korban dikabarkan akan melangsungkan perkawinan adat bersama calon suaminya. Namun, sebelum hari bahagia itu tiba, perjalanan hidupnya justru berakhir dalam tragedi yang memilukan.
Sebagaimana diberitakan sejumlah media, korban bersama calon suaminya, Fabianus Dowa, dan seorang anggota keluarga bernama Imelda Dowa, awalnya mendatangi Kali Bondo Kodi untuk mencuci pakaian. Mereka tiba di lokasi sekitar pukul 16.30 WITA dan menyelesaikan kegiatan mencuci sekitar pukul 19.30 WITA.
Setelah itu, korban bersama calon suaminya melanjutkan aktivitas mandi di kali. Dalam situasi yang tidak mereka duga, seekor buaya diduga menyerang dan menyeret korban ke dalam air. Peristiwa tersebut disaksikan oleh calon suami dan anggota keluarga yang berada di lokasi.
Sungguh, siapa yang pernah menyangka bahwa tempat yang mungkin selama ini dianggap biasa untuk menjalankan aktivitas sehari-hari justru menjadi lokasi terjadinya tragedi yang merenggut nyawa seseorang?
Di saat keluarga mungkin sedang menyimpan harapan tentang hari bahagia yang sebentar lagi tiba, kenyataan pahit justru datang meruntuhkan semuanya. Hari yang seharusnya dipenuhi sukacita, persiapan perkawinan yang seharusnya menjadi cerita indah, kini berubah menjadi tangisan, kehilangan, dan duka yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
Ia pergi sebelum hari bahagianya tiba. Ia meninggalkan dunia ini sebelum sempat menapaki kehidupan baru yang mungkin telah lama dinantikannya.
Inilah bagian paling menyayat hati dari tragedi tersebut.
## Ketika Harapan Berubah Menjadi Air Mata
Coba kita bayangkan perasaan keluarga yang ditinggalkan. Seorang anak perempuan yang dibesarkan dengan penuh kasih sayang, yang masa depannya masih terbentang panjang, dan yang tidak lama lagi akan memasuki babak baru dalam kehidupannya, justru harus pergi dengan cara yang begitu tragis.
Ada rencana yang tidak sempat terlaksana. Ada kebahagiaan yang tidak sempat dirayakan. Ada harapan tentang kehidupan baru yang tidak pernah sampai pada waktunya.
Perkawinan adat yang seharusnya menjadi momentum kebahagiaan bagi keluarga besar kini berubah menjadi kenangan yang menyakitkan. Tidak ada lagi persiapan yang dinantikan dengan penuh sukacita. Tidak ada lagi senyum yang dibayangkan akan menghiasi hari bahagia itu.
Yang tersisa hanyalah kenyataan pahit bahwa seseorang yang mereka cintai telah pergi untuk selamanya.
Begitulah kehidupan terkadang memperlihatkan wajahnya yang paling keras. Kita bisa merencanakan hari esok dengan begitu banyak harapan, tetapi tidak seorang pun benar-benar mengetahui apa yang akan terjadi beberapa menit kemudian.
Namun, memahami kenyataan bukan berarti mudah menerima kehilangan. Terlebih ketika kematian datang secara mendadak, tanpa kesempatan untuk berpamitan dan tanpa waktu untuk mengucapkan selamat tinggal.
Ada luka yang tidak terlihat oleh mata, tetapi akan terus terasa setiap kali keluarga mengingat sosok yang telah pergi.
## Keluarga dan Warga Melakukan Pencarian hingga Dini Hari
Yang membuat peristiwa ini semakin menggugah perasaan adalah upaya pencarian terhadap korban setelah kejadian tersebut.
Berdasarkan keterangan yang diberitakan media, kejadian itu segera dilaporkan kepada keluarga, kepolisian, dan pemerintah setempat. Keluarga bersama warga kemudian mendatangi lokasi untuk melakukan pencarian.
Pencarian berlangsung hingga dini hari. Kapolsek Kodi, Iptu Ahmad Sidiq Abbas, sebagaimana dikutip detikBali pada Minggu (25/10/2026), menyampaikan bahwa upaya pencarian yang dipimpin pihak kepolisian berlangsung hingga sekitar pukul 04.00 WITA. Korban kemudian ditemukan sekitar pukul 06.00 WITA pada Sabtu (24/10/2026).
Lokasi penemuan dilaporkan berjarak sekitar 25–30 meter dari titik awal korban diduga diterkam buaya. Saat ditemukan, korban telah meninggal dunia dan mengalami sejumlah luka gigitan.
Bayangkan suasana malam itu. Di tengah gelapnya malam, ketika sebagian orang mungkin telah terlelap, keluarga korban justru menghadapi kenyataan yang sangat berat. Ada kecemasan, ketidakpastian, dan harapan agar orang yang mereka cintai dapat ditemukan.
Kita mungkin tidak sepenuhnya mengetahui apa yang berkecamuk di dalam hati keluarga korban saat itu. Namun, kehilangan seorang anak, saudara, atau anggota keluarga dengan cara seperti ini tentu bukan perkara yang mudah diterima.
Rasa sedih bisa bercampur dengan kemarahan. Ketidakpercayaan bisa berubah menjadi keinginan untuk mencari jawaban. Dalam situasi yang begitu emosional, manusia berusaha melakukan berbagai hal untuk menghadapi kenyataan yang terasa menyakitkan.
Karena itu, upaya pencarian yang dilakukan keluarga, warga, dan aparat perlu dipahami sebagai bagian dari situasi darurat yang mereka hadapi.
Namun, keselamatan warga tetap harus menjadi perhatian. Penanganan buaya dan satwa liar berbahaya sebaiknya melibatkan petugas yang berwenang agar tidak menimbulkan bahaya baru bagi masyarakat.
Jangan sampai duka yang telah merenggut satu nyawa justru membuka jalan bagi jatuhnya korban berikutnya.
## Tragedi Ini Bukan Sekadar Kabar Duka
Bagi penulis, peristiwa di Kali Bondo Kodi ini bukan sekadar berita tentang seorang gadis yang diduga diterkam buaya. Ada persoalan yang lebih besar yang patut menjadi perhatian kita bersama, yakni keselamatan masyarakat ketika beraktivitas di lingkungan yang berpotensi menjadi habitat satwa liar.
Kita tidak boleh hanya berhenti pada rasa sedih, lalu membiarkan peristiwa ini berlalu begitu saja seiring bergantinya hari.
Apabila keberadaan buaya di sekitar Kali Bondo telah teridentifikasi dan lokasi tersebut masih digunakan masyarakat untuk mandi, mencuci, atau melakukan aktivitas lainnya, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah desa, pemerintah daerah, aparat setempat, serta instansi yang memiliki kewenangan dalam penanganan satwa liar.
Perlu ada pemeriksaan terhadap kondisi lokasi, penyampaian peringatan kepada masyarakat, serta langkah pencegahan yang sesuai dengan situasi di lapangan.
Jika diperlukan, kawasan yang berisiko perlu diberi tanda peringatan agar masyarakat memahami potensi bahaya sebelum melakukan aktivitas di sekitar perairan.
Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai risiko yang ada. Sebab, keselamatan bukan hanya berkaitan dengan kewaspadaan individu, tetapi juga membutuhkan perhatian, koordinasi, dan langkah pencegahan dari pihak-pihak terkait.
Kita tentu tidak menginginkan tragedi serupa kembali terjadi. Jangan sampai setelah satu keluarga kehilangan orang yang dicintai, kita baru menyadari bahwa ada potensi bahaya yang perlu ditangani dengan lebih serius.
Satu nyawa yang hilang sudah terlalu mahal untuk dijadikan pelajaran.
## Jangan Biarkan Duka Ini Berlalu Tanpa Makna
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa tidak semua tragedi dapat dicegah. Namun, setiap kejadian yang telah terjadi seharusnya menjadi bahan evaluasi untuk mengurangi risiko di masa mendatang.
Keluarga korban kini harus menjalani hari-hari yang tidak lagi sama. Ada tempat yang mungkin akan selalu mengingatkan mereka kepada almarhumah. Ada kenangan yang tiba-tiba muncul ketika nama atau rencana perkawinannya disebut. Dan ada hari bahagia yang dahulu dinantikan, tetapi kini hanya menyisakan kepedihan.
Waktu mungkin akan terus berjalan, tetapi kehilangan seseorang yang dicintai tidak selalu selesai hanya karena hari berganti.
Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan kekuatan dan ketabahan. Tidak ada kata-kata yang benar-benar mampu menghapus luka seperti ini. Namun, semoga kehadiran keluarga besar, sahabat, dan masyarakat dapat menjadi penguat di tengah masa yang begitu berat.
Untuk kita semua, mari menjadikan peristiwa ini sebagai pengingat agar lebih peduli terhadap keselamatan di lingkungan sekitar. Jangan mengabaikan potensi bahaya dan jangan pula mengambil tindakan berisiko yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
Sebab, di balik setiap kabar tentang korban jiwa, selalu ada keluarga yang harus belajar menerima kenyataan bahwa seseorang yang mereka cintai tidak akan pernah kembali.
## Penutup: Perkawinan yang Tak Pernah Sampai pada Hari Bahagia
Ada kisah yang berakhir sebelum sempat mencapai puncak kebahagiaannya. Ada perjalanan yang terhenti ketika langkah-langkah baru seharusnya dimulai.
Selviana Ambu Kaka kini telah pergi, meninggalkan keluarga, kenangan, dan harapan tentang perkawinan adat yang sebentar lagi akan dilangsungkan.
Sungguh pilu membayangkan bahwa ketika sebuah keluarga mungkin sedang menantikan hari bahagia, mereka justru harus menghadapi salah satu hari paling menyedihkan dalam hidup mereka.
Hari yang semestinya dipenuhi tawa kini berganti air mata. Harapan yang semestinya tumbuh kini terputus oleh kematian. Dan masa depan yang semestinya terbentang luas kini hanya tinggal kenangan bagi mereka yang ditinggalkan.
Terkadang, yang paling menyakitkan bukan hanya kehilangan seseorang, melainkan juga kehilangan seluruh harapan tentang masa depan yang seharusnya dijalani bersamanya.
Selamat jalan, Selviana. Engkau pergi sebelum hari bahagiamu tiba. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk melewati masa-masa sulit ini.
Semoga kepergianmu tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga menggugah kepedulian kita semua untuk menjaga keselamatan sesama.
Turut berduka cita sedalam-dalamnya. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi penghiburan serta ketabahan.
Sebab, ada kehilangan yang tidak bisa diperbaiki oleh waktu. Kita hanya bisa belajar menerimanya, sembari menjaga agar tragedi serupa tidak kembali merenggut kehidupan orang lain.
## Tanggapan Wartawan MABESNEWS.COM: Tragedi Kali Bondo Kodi Harus Menjadi Evaluasi Bersama
Peristiwa tragis yang merenggut nyawa Selviana Ambu Kaka di Kali Bondo Kodi, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, bukan hanya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi peringatan serius tentang pentingnya keselamatan masyarakat di sekitar wilayah yang berpotensi menjadi habitat buaya.
Dari sudut pandang jurnalistik, tragedi ini tidak cukup hanya disampaikan melalui narasi kesedihan. Perlu ada perhatian nyata dari pemerintah desa, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta instansi berwenang untuk memastikan kondisi di lokasi dan mengambil langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Kita turut berduka atas kepergian korban, terlebih karena ia dikabarkan akan melangsungkan perkawinan adat bersama calon suaminya. Namun, di tengah suasana duka, masyarakat juga perlu diingatkan agar tidak melakukan tindakan berbahaya terhadap satwa liar tanpa penanganan petugas yang berkompeten.
MABESNEWS.COM berpandangan bahwa satu nyawa yang hilang harus menjadi bahan evaluasi serius, bukan sekadar berita yang ramai dibicarakan sesaat. Pemerintah dan pihak terkait perlu memberikan penjelasan mengenai kondisi Kali Bondo, potensi ancaman buaya, serta langkah konkret yang akan dilakukan untuk melindungi masyarakat.
Pemberian informasi kepada masyarakat, pemasangan tanda peringatan apabila diperlukan, dan koordinasi dengan instansi yang berwenang merupakan langkah-langkah yang patut dipertimbangkan berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan.
Duka keluarga korban harus dihormati, keselamatan warga harus diprioritaskan, dan setiap langkah penanganan perlu dilakukan secara bertanggung jawab.
Jangan menunggu korban berikutnya untuk mulai bertindak. Keselamatan masyarakat adalah tanggung jawab bersama.
MABESNEWS.COM menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan serta ketabahan.
Jurnalis: Martinus Kondo














Leave a Reply