![]()
Pendahuluan
Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) periode 2025–2026 menjadi salah satu langkah penting dalam upaya pemerintah Indonesia untuk memerangi korupsi. Dengan 15 aksi yang telah ditetapkan, Stranas PK tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas di sektor pemerintahan, tetapi juga menciptakan sistem pencegahan yang lebih efektif dan berkelanjutan. Namun, bagaimana cara mengukur keberhasilan dari strategi ini? Artikel ini akan membahas beberapa indikator utama serta metode evaluasi yang digunakan untuk menilai kinerja Stranas PK.
Indikator Utama Pengukuran Keberhasilan Stranas PK
1. Capaian Kuantitatif
Salah satu cara mengukur keberhasilan Stranas PK adalah melalui capaian kuantitatif. Contohnya, Kementerian Agama mencatatkan skor 69,88 persen pada periode B12 (bulan ke-12) tahun 2025, yang berada di atas rata-rata nasional. Skor ini mencerminkan progres yang baik dalam pelaksanaan aksi pencegahan korupsi. Capaian kuantitatif ini biasanya diukur melalui aplikasi jaga.id, yang menjadi platform pelaporan utama bagi kementerian/lembaga.
2. Peningkatan Transparansi dan Akuntabilitas
Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci dalam pencegahan korupsi. Salah satu aksi Stranas PK yang fokus pada digitalisasi layanan publik, seperti Sistem Informasi Manajemen Nikah (Simkah), memberikan kontribusi signifikan dalam meningkatkan akurasi data dan transparansi layanan. Hal ini juga mencegah potensi penyimpangan administrasi.
3. Pengelolaan Konflik Kepentingan (Conflict of Interest)
Aksi Conflict of Interest (COI) mencatatkan capaian sangat signifikan, yaitu 90 persen. Capaian ini menunjukkan komitmen kuat pimpinan dan pejabat dalam mendeklarasikan potensi konflik kepentingan secara terbuka. Penguatan sistem pelaporan yang semakin tertib dan terintegrasi juga menjadi faktor penentu keberhasilan aksi ini.
4. Optimalisasi Penerimaan Negara
Stranas PK juga fokus pada peningkatan penerimaan negara, termasuk pajak, cukai, dan penerimaan bukan pajak. Evaluasi terhadap optimalisasi penerimaan negara dilakukan melalui penggunaan Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD). Ini membantu memastikan bahwa dana negara digunakan secara efisien dan sesuai dengan rencana.
Metode Evaluasi yang Digunakan
1. Evaluasi Berkala
KPK menegaskan bahwa evaluasi terhadap pelaksanaan Stranas PK dilakukan setiap tiga bulan. Evaluasi ini tidak hanya dilakukan oleh KPK, tetapi juga oleh lembaga lain seperti Kepala Staf Kepresidenan (KSP) yang melakukan evaluasi pada triwulan pertama.
2. Pelaporan ke Presiden
![]()
Setiap enam bulan, kementerian/lembaga dan pemerintah daerah wajib melaporkan pelaksanaan 15 aksi Stranas PK kepada Presiden. Laporan ini menjadi indikator utama dalam menilai keseluruhan kinerja pemerintah dalam pencegahan korupsi.
3. Pemantauan Melalui Aplikasi Jaga.id
Aplikasi jaga.id menjadi alat utama dalam pemantauan dan pelaporan pelaksanaan Stranas PK. Aplikasi ini memungkinkan kementerian/lembaga untuk melacak capaian masing-masing aksi secara real-time dan memastikan bahwa semua target tercapai.
4. Evaluasi Bersama Lembaga Terkait
Selain evaluasi internal, KPK juga bekerja sama dengan lembaga lain seperti APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) dan BUMN/BUMD untuk memastikan bahwa seluruh aksi Stranas PK dijalankan secara efektif dan efisien.
Tantangan dan Tindak Lanjut
Meskipun ada progres yang signifikan, masih terdapat tantangan dalam pelaksanaan Stranas PK. Misalnya, beberapa kementerian/lembaga masih kesulitan dalam mengimplementasikan digitalisasi layanan atau memastikan kepatuhan dalam pengadaan barang dan jasa. Oleh karena itu, diperlukan pendampingan dan penguatan kapasitas agar semua aksi Stranas PK dapat berjalan maksimal.
Kesimpulan
Mengukur keberhasilan Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) periode 2025–2026 membutuhkan pendekatan yang holistik dan berbasis data. Dengan indikator seperti capaian kuantitatif, peningkatan transparansi, optimalisasi penerimaan negara, dan pengelolaan konflik kepentingan, pemerintah dapat menilai sejauh mana strategi ini berhasil mencegah korupsi. Selain itu, evaluasi berkala, pelaporan ke presiden, dan penggunaan aplikasi jaga.id menjadi alat penting dalam memastikan akuntabilitas dan efektivitas pelaksanaan Stranas PK. Dengan terus memperkuat sistem pengawasan dan kerja sama lintas sektor, Indonesia dapat menjadikan Stranas PK sebagai fondasi kuat dalam perang melawan korupsi.











Leave a Reply