MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

Di Balik Program BSPS yang Terus Bergulir, Warga Tiga Kampung di Desa Waitaru Masih Menanti Keadilan Pembangunan

Loading

KODI UTARA, SBD – Di tengah gencarnya pelaksanaan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dan berbagai program pembangunan yang terus digulirkan pemerintah, puluhan warga di Kampung Ghela Ngandi, Kampung Lete Rada, dan Kampung Homba Lugha RT 009 RW 005 Dusun III Desa Waitaru masih menaruh harapan besar agar kondisi mereka tidak luput dari perhatian pemerintah.

 

Sekitar 20 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami ketiga kampung tersebut hingga kini masih hidup dalam berbagai keterbatasan. Sebagian besar warga menempati rumah-rumah sederhana yang kondisinya semakin memprihatinkan. Dinding yang lapuk dimakan usia, atap yang mulai rusak, serta bangunan yang tidak lagi memenuhi standar kelayakan menjadi realitas yang mereka hadapi setiap hari.

 

Ironisnya, di saat program bantuan perumahan terus berjalan dari tahun ke tahun, masih terdapat warga yang belum merasakan manfaat langsung dari program tersebut. Kondisi ini memunculkan harapan sekaligus pertanyaan di tengah masyarakat mengenai sejauh mana pemerataan pembangunan benar-benar menyentuh warga yang paling membutuhkan.

 

Bagi masyarakat di tiga kampung tersebut, rumah bukan sekadar bangunan fisik. Rumah adalah simbol keamanan, tempat berlindung dari cuaca ekstrem, serta ruang untuk membangun kehidupan keluarga yang lebih layak. Karena itu, bantuan perumahan dinilai menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi warga lanjut usia dan keluarga kurang mampu yang tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memperbaiki rumah secara mandiri.

 

Pemerintah Desa Waitaru mengakui bahwa kebutuhan Rumah Layak Huni (RLH) di wilayahnya masih cukup tinggi. Namun keterbatasan anggaran desa dan kebijakan efisiensi membuat pemerintah desa belum mampu menjangkau seluruh warga yang membutuhkan bantuan.

 

Tidak hanya persoalan rumah, masyarakat juga masih menghadapi berbagai persoalan dasar lainnya. Ketersediaan air bersih masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi. Sebagian warga masih mengandalkan air hujan sebagai sumber utama kebutuhan sehari-hari. Saat musim kemarau tiba, mereka harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan air yang layak konsumsi.

 

Di Kampung Lete Rada, persoalan listrik juga masih menjadi kenyataan yang dirasakan sebagian warga. Hingga saat ini masih terdapat keluarga yang belum menikmati layanan listrik meteran. Ketika malam tiba, keterbatasan penerangan menjadi hambatan bagi aktivitas masyarakat, termasuk bagi anak-anak yang sedang menempuh pendidikan.

 

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah akses infrastruktur jalan. Jalur yang menghubungkan ketiga kampung tersebut hingga kini masih membutuhkan perhatian serius. Masyarakat berharap adanya peningkatan jalan berupa sertu, pengerasan batu galian, maupun pengaspalan hotmix agar mobilitas warga menjadi lebih baik.

 

Padahal jalan tersebut merupakan akses vital yang menghubungkan masyarakat dengan fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, pusat ekonomi, serta akses menuju SMA Negeri 1 Kodi Utara melalui wilayah Kampung Kerepengga.

 

Melihat berbagai kondisi tersebut, masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya dapat memberikan perhatian lebih melalui program BSPS maupun program pembangunan lainnya. Mereka berharap proses pendataan dan verifikasi penerima bantuan dilakukan secara objektif, transparan, serta berdasarkan kondisi nyata di lapangan sehingga bantuan benar-benar diterima oleh masyarakat yang paling membutuhkan.

 

 

Kondisi yang masih dialami warga Ghela Ngandi, Lete Rada, dan Homba Lugha menjadi cermin bahwa pekerjaan rumah pembangunan di Kabupaten Sumba Barat Daya belum sepenuhnya selesai. Keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya diukur dari jumlah program yang diluncurkan atau besarnya anggaran yang terserap, tetapi harus diukur dari sejauh mana manfaatnya dirasakan oleh masyarakat yang paling rentan.

Jika masih ada lansia yang tinggal di rumah reyot, keluarga yang kesulitan memperoleh air bersih, warga yang belum menikmati listrik, dan kampung-kampung yang masih tertinggal dari sisi infrastruktur, maka evaluasi terhadap efektivitas dan pemerataan program pembangunan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Masyarakat tidak sedang meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya berharap hak yang sama sebagai warga negara untuk memperoleh kehidupan yang lebih layak. Karena pada akhirnya, pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang ramai diberitakan, melainkan pembangunan yang benar-benar hadir dan dirasakan hingga ke kampung-kampung yang selama ini berada di ujung perhatian.

 

Tim Lapangan

Martinus Kondo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *