![]()
Mabesnews.tv. Tanjungpinang – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) kembali menegaskan komitmennya menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi daerah. Komitmen tersebut disampaikan Gubernur Kepri, Ansar Ahmad, saat menerima kunjungan jajaran Landmarks Berhad Group yang dipimpin Chief Executive Officer (CEO) Mark Wee Liang Yee di Gedung Daerah, Tanjungpinang.
Dalam pertemuan tersebut, Gubernur menegaskan bahwa pemerintah daerah membuka ruang kerja sama dengan investor yang memiliki visi membangun sektor pariwisata secara berkelanjutan. Menurutnya, pengembangan destinasi wisata tidak hanya bertujuan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga harus mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat perekonomian lokal, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pernyataan tersebut dinilai sejalan dengan arah pembangunan nasional yang mendorong sektor pariwisata menjadi salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi nonmigas. Kepulauan Riau sendiri memiliki keunggulan geografis karena berbatasan langsung dengan Singapura dan Malaysia, sehingga memiliki peluang besar menarik wisatawan mancanegara.
Namun demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa keberhasilan pembangunan pariwisata tidak cukup diukur dari besarnya nilai investasi maupun megahnya proyek yang dibangun. Yang lebih penting adalah dampak ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat di sekitar kawasan wisata.
Pengamat pariwisata menilai investasi akan memberikan manfaat optimal apabila mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect). Artinya, keberadaan destinasi wisata harus ikut menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), meningkatkan okupansi hotel, memperkuat sektor transportasi, membuka peluang usaha kuliner, serta memperluas pasar bagi produk ekonomi kreatif lokal.
Menurut akademisi di bidang pariwisata, pembangunan destinasi modern perlu disertai strategi penguatan sumber daya manusia. Pelaku usaha lokal harus memperoleh pelatihan mengenai pelayanan wisata, pemasaran digital, pengelolaan usaha, hingga kemampuan berbahasa asing agar mampu bersaing dan menjadi bagian dari rantai ekonomi pariwisata.
Selain itu, pembangunan juga harus memperhatikan prinsip keberlanjutan. Kawasan pesisir, hutan mangrove, terumbu karang, dan lingkungan laut merupakan aset utama Kepri yang harus dijaga. Apabila pembangunan hanya berorientasi pada keuntungan jangka pendek tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan, maka sektor pariwisata justru berpotensi kehilangan daya tariknya.
Ekonom pembangunan turut mengingatkan bahwa investasi pariwisata memerlukan kepastian hukum, kemudahan perizinan, dan infrastruktur yang memadai. Jalan, pelabuhan, bandara, jaringan listrik, telekomunikasi, hingga pengelolaan sampah menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan suatu destinasi wisata.
Di sisi lain, masyarakat juga berharap setiap proyek investasi mampu melibatkan pelaku UMKM lokal. Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan bahwa pembangunan kawasan wisata sering kali lebih menguntungkan investor besar apabila tidak disertai kebijakan afirmatif bagi masyarakat sekitar.
Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu memastikan adanya ruang usaha bagi pedagang lokal, produk kerajinan daerah, kuliner khas Melayu, serta berbagai bentuk ekonomi kreatif lainnya agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara merata.
Aliansi peduli Indonesia kepulauan Riau melalui wakil ketua bidang kebijakan publik juga menekankan pentingnya transparansi dalam setiap investasi strategis. Masyarakat perlu memperoleh informasi yang jelas mengenai rencana proyek, nilai investasi, tahapan pembangunan, analisis dampak lingkungan, hingga potensi manfaat ekonomi yang akan diterima daerah. Transparansi tersebut diyakini dapat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus meminimalkan potensi konflik sosial.
Kepri memiliki modal besar untuk berkembang sebagai destinasi wisata internasional. Selain kekayaan alam berupa pantai dan pulau-pulau tropis, provinsi ini juga memiliki potensi wisata budaya Melayu, sejarah kerajaan, wisata bahari, olahraga, hingga penyelenggaraan berbagai agenda internasional.
Dengan posisi strategis yang berada di jalur perdagangan dunia, peluang Kepri menjadi pusat pariwisata regional dinilai sangat terbuka. Namun peluang tersebut hanya dapat diwujudkan apabila pembangunan dilakukan secara terencana, berkelanjutan, berpihak kepada masyarakat lokal, dan didukung tata kelola pemerintahan yang baik.
Komitmen pemerintah daerah bersama masuknya investasi baru diharapkan menjadi momentum memperkuat daya saing pariwisata Kepri. Keberhasilan pembangunan nantinya tidak hanya diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan atau besarnya investasi yang masuk, tetapi juga dari bertambahnya lapangan pekerjaan, meningkatnya pendapatan UMKM, terjaganya kelestarian lingkungan, serta meningkatnya kesejahteraan masyarakat Kepulauan Riau secara menyeluruh.
arf-6















Leave a Reply