MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

Oknum Intelijen TNI Gadungan Tipu Warga Ratusan Juta: Kasus Desersi Terungkap

Loading

Dalam beberapa tahun terakhir, kasus penipuan yang melibatkan oknum anggota TNI atau aparat keamanan semakin marak. Salah satu kasus terbaru yang mengejutkan adalah dugaan penipuan oleh oknum intelijen TNI gadungan yang merugikan warga hingga ratusan juta rupiah. Selain itu, kasus desersi dari anggota militer juga menjadi perhatian serius karena menunjukkan adanya masalah dalam disiplin dan pengelolaan sumber daya manusia di lingkungan militer.

Penipuan dengan Identitas Palsu

Salah satu contoh kasus penipuan yang terjadi adalah di Surabaya, Jawa Timur. Seorang ibu rumah tangga bernama Linda Nurhayati (34) mengaku menjadi korban penipuan sebesar Rp134 juta. Ia mengklaim bahwa penipuan dilakukan oleh tetangganya sendiri, yaitu seorang anggota TNI Angkatan Laut (AL) berpangkat Sersan Mayor (Serma) berinisial FS, yang kini diduga tidak lagi aktif sebagai anggota TNI AL.

Kasus ini bermula pada Februari 2024 ketika istri Serma FS datang meminta bantuan kepada Linda untuk mencari pinjaman sebesar Rp200 juta dengan jaminan BPKB mobil Mitsubishi Xpander. Linda kemudian menghubungi rekanannya, MM, yang bersedia memberikan pinjaman tersebut. Kesepakatan dibuat melalui perjanjian tertulis antara Serma FS dan WA, anak dari MM.

Namun, setelah BPKB mobil tersebut diserahkan, tidak pernah kembali. Linda akhirnya terpaksa membayar sisa hutang sebesar Rp200 juta kepada MM. Sayangnya, hingga saat ini belum ada tanda-tanda kejelasan mengenai keberadaan BPKB dan mobil tersebut.

Dugaan Desersi dan Keterlibatan Militer Asing

Gaji Tinggi Tentara Bayaran di Rusia

Selain kasus penipuan, ada juga laporan mengenai oknum TNI yang melakukan desersi dan bergabung dengan militer asing. Baru-baru ini, Polda Aceh menjatuhkan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) kepada Brigadir Dua Muhammad Rio, anggota Satuan Brimob Polda Aceh. Rio meninggalkan tugasnya dan bergabung dengan militer Rusia di wilayah Donbass, Ukraina.

Peneliti Institute for Security and Strategic Studies (ISESS), Bambang Rukminto, menyebutkan bahwa kasus Rio bukanlah kejadian pertama yang melibatkan aparat keamanan dan pertahanan Indonesia. Pada 2025, hal serupa juga terjadi saat seorang desertir TNI bergabung dengan militer Rusia.

“Kondisi ini dipandang sebagai indikasi adanya persoalan serius dalam pola pembinaan sumber daya manusia dan jenjang karier anggota keamanan dan pertahanan,” ujar Bambang.

Motif dan Iming-Iming Gaji Tinggi

Menurut informasi yang dihimpun, Rio sempat mengirimkan pesan kepada rekan sejawatnya di Provos Satbrimob Polda Aceh pada 7 Januari 2026, yang menyiratkan keberhasilan instannya di Rusia. Ada pula kiriman foto pria berseragam militer taktis lengkap dengan senjata serbu.

Rio mengklaim telah lulus seleksi tentara Rusia dan langsung mendapatkan pangkat letnan dua. Menurutnya, hal itu dimungkinkan karena kemampuan bahasa Inggris dan Rusia yang dimilikinya saat sesi wawancara. Selain itu, ia juga memamerkan pendapatan finansial yang fantastis, seperti bonus awal sebesar 2 juta rubel atau setara Rp420 juta, serta gaji bulanan sebesar 210.000 rubel (sekitar Rp42 juta). Angka ini jauh melampaui pendapatannya sebagai bintara Polri.

Langkah yang Diambil oleh Pihak Berwajib

Polda Aceh telah memetakan jalur pelarian Rio. Berdasarkan data perlintasan, Rio tercatat terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional Pudong, Shanghai, 18 Desember 2025. Sehari kemudian, ia melanjutkan penerbangan ke Haikou, China, hingga akhirnya jejaknya terlacak masuk ke wilayah Federasi Rusia.

Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri melalui NCB Interpol Indonesia dilaporkan telah berkoordinasi dengan Atase Kepolisian Rusia di Jakarta. Namun, upaya memulangkan Rio ke Tanah Air menghadapi kendala besar. Adapun Rio terkonfirmasi bergabung dengan perusahaan militer swasta yang kerap ditempatkan di garis depan pertempuran.

Kesimpulan

Kasus-kasus penipuan dan desersi yang melibatkan oknum TNI atau aparat keamanan menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengelolaan sumber daya manusia dan disiplin. Masyarakat perlu lebih waspada terhadap tindakan yang mencurigakan, terutama yang melibatkan identitas resmi institusi negara. Selain itu, lembaga terkait perlu meningkatkan pengawasan dan pembinaan agar tidak terulang lagi kejadian serupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *