MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

Ketika Perjalanan Mengajarkan Makna Perbedaan

Loading

Oleh: Muhammad Zulkhairi Akram

 

Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Putra Daerah Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau

Ada satu pelajaran yang tidak pernah saya temukan di ruang kelas, yaitu belajar memahami dunia melalui perjalanan. Bangkok menjadi salah satu kota yang mengajarkan hal tersebut kepada saya. Kota metropolitan yang dipenuhi gedung-gedung pencakar langit, hiruk-pikuk masyarakat dari berbagai penjuru dunia, serta keberagaman budaya yang hidup berdampingan membuka cara pandang baru tentang makna toleransi, pendidikan, dan kemanusiaan.

 

Perjalanan menuju Bangkok bukanlah perjalanan yang singkat. Selama kurang lebih 16 jam, kami menempuh perjalanan dengan kereta api dari Pattani. Rasa lelah, kantuk, dan berbagai keterbatasan selama perjalanan seolah menjadi bagian dari proses yang harus dilalui. Namun, setibanya di Bangkok, semua rasa lelah itu berubah menjadi semangat baru. Kami menyadari bahwa kami tidak hanya datang sebagai mahasiswa, tetapi juga membawa nama baik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta dan Indonesia di hadapan masyarakat internasional.

 

Langkah pertama kami mengarah ke Krirk University, tempat berlangsungnya kegiatan Cultural Exchange dan presentasi akademik. Sambutan hangat dari para pimpinan universitas memberikan kesan bahwa ilmu pengetahuan mampu melampaui batas negara, bahasa, bahkan budaya. Dalam forum diskusi tersebut, kami tidak hanya mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga memperkenalkan wajah Indonesia yang kaya akan nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan semangat kolaborasi.

 

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Bangkok. Bagi saya, kunjungan ini memiliki makna yang lebih dari sekadar agenda resmi. Di sana, kami berdiskusi mengenai berbagai gagasan, program, serta peluang kolaborasi yang dapat memperkuat hubungan akademik antara Indonesia dan Thailand. Saya semakin memahami bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih besar daripada sekadar mengejar gelar. Mahasiswa juga harus mampu menjadi jembatan yang menghubungkan bangsa-bangsa melalui ilmu pengetahuan, diplomasi, dan kerja sama.

 

Puncak perjalanan akademik kami berlangsung saat menghadiri International Conference on Islamic Business di BITEC Bangna, Bangkok. Konferensi internasional tersebut mempertemukan peserta dari berbagai negara. Saya berkesempatan berdialog dengan akademisi dan mahasiswa dari Tiongkok, Jepang, Brasil, serta beberapa negara lainnya. Dalam setiap percakapan, saya menyadari bahwa meskipun kami berasal dari latar belakang budaya, bahasa, dan keyakinan yang berbeda, kami memiliki tujuan yang sama, yaitu belajar, berbagi pengetahuan, dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Namun, di balik seluruh pengalaman akademik tersebut, ada pelajaran lain yang justru lebih membekas, yaitu pengalaman culture shock.

 

Sebagai seorang Muslim Indonesia, Bangkok memberikan pengalaman yang sangat berbeda. Kota ini mayoritas dihuni oleh masyarakat yang beragama Buddha. Patung-patung Buddha berdiri megah di berbagai sudut kota, kuil-kuil menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dan tradisi lokal tetap dijaga dengan baik oleh masyarakatnya. Pada awalnya, saya merasa asing. Namun, perlahan saya menyadari bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang harus ditakuti, melainkan dipahami dan dihargai.

 

Saya juga belajar bahwa menjaga identitas sebagai seorang Muslim di negeri orang membutuhkan kesadaran yang lebih besar. Mencari makanan halal harus dilakukan dengan lebih teliti, waktu salat perlu direncanakan dengan baik, dan setiap keputusan menjadi bentuk tanggung jawab terhadap nilai-nilai yang saya yakini. Di tengah kehidupan malam Bangkok yang begitu semarak dan budaya yang lebih terbuka, saya justru semakin memahami pentingnya menjaga prinsip tanpa kehilangan rasa hormat terhadap budaya orang lain.

 

Hal yang paling membekas bagi saya adalah keramahan masyarakat Thailand. Mereka berbicara dengan lembut, menghormati setiap orang tanpa memandang latar belakang, serta menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari mereka, saya belajar bahwa menghargai perbedaan merupakan bahasa universal yang mampu mempertemukan siapa saja.

 

Perjalanan ini akhirnya mengubah cara saya memandang dunia. Saya berangkat dengan membawa pengetahuan dari Indonesia, tetapi pulang dengan membawa pengalaman yang jauh lebih berharga. Saya belajar bahwa pendidikan tidak berhenti di ruang kuliah, melainkan terus hidup dalam setiap perjalanan, setiap pertemuan, dan setiap dialog dengan orang-orang yang berbeda latar belakang.

Bangkok bukan sekadar sebuah destinasi. Bagi saya, Bangkok adalah ruang belajar yang mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan, toleransi, dan kemanusiaan merupakan jembatan yang mampu menghubungkan bangsa-bangsa. Sebagai mahasiswa Indonesia, saya bangga pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan besar tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *