![]()
MABESNEWS.tv, .YAHUKIMO, PAPUA PEGUNUNGAN – Kemanusiaan di Tanah Papua kembali dicabik-cabik oleh tindakan keji yang tak berperikemanusiaan. Kelompok yang mengatasnamakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) kembali membantai tiga warga sipil tak berdosa di wilayah Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan.
Aksi ini dinilai bukan lagi bentuk perjuangan politik, melainkan tindakan terorisme barbar yang murni didasari kebencian ekstrem dan kebiadaban.
Ketiga korban terdiri dari sepasang suami istri serta seorang wanita warga asli Papua, yang dieksekusi secara kejam di jalanan.
Tanpa rasa belas kasihan, pelaku menuduh mereka sebagai mata-mata atau agen intelijen — tuduhan yang dianggap sebagai alibi murahan yang selalu dipakai kelompok bersenjata untuk menghalalkan pembantaian terhadap rakyat sipil.
Peristiwa memilukan ini semakin menampakkan wajah asli kelompok tersebut. Mereka bukanlah pejuang yang memperjuangkan nasib rakyat, melainkan pembunuh berdarah dingin yang tak ragu menumpahkan darah saudara sebangsanya sendiri.
Aksi biadab ini memicu kemarahan mendalam dari tokoh aktivis hukum,” Agung RPP”, Saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor Hukum Fokker4 Nusantara yang sebelumnya tergabung dalam LBH Sembilan Bintang Nusantara serta Jurnalis senior salah satu Media Online Nasional, Agung yang memiliki ikatan emosional dan kekeluargaan yang sangat erat dengan masyarakat Papua melontarkan kecaman yang sangat keras terhadap peristiwa tersebut.
“Aksi brutal dan kekejaman kelompok pembuat rusuh yang mengatasnamakan OPM ini sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai luhur adat Papua. Perilaku mereka membantai warga sipil yang tidak bersalah, bahkan sesama warga asli Papua, sama sekali tidak ada bedanya dengan kelompok teroris di manapun. Membunuh saudara sendiri hanya dengan tuduhan sepihak sebagai intelijen adalah puncak kebiadaban yang tak bisa dimaafkan!” tegas Agung dengan nada geram, Sabtu (25/7/2026).
Pria yang dikenal luas sebagai praktisi hukum ini mengaku sangat menghargai dan bersimpati terhadap cita-cita serta aspirasi yang selama ini diperjuangkan oleh sebagian masyarakat Papua.
Namun ia menegaskan, tidak membenarkan pembunuhan terhadap sesama etnis atau etnis lainnya hanya karena perbedaan pandangan atau tuduhan tanpa bukti adalah tanda kehancuran moral yang ekstrem.
Oleh karena itu, Agung mendesak Pemerintah Pusat, TNI, dan Polri untuk tidak lagi bersikap kompromistis atau sekadar menggunakan pendekatan persuasif yang setengah hati. Negara, tegasnya, tidak boleh kalah oleh kelompok ini!
“Saya mendesak Pemerintah dan seluruh Aparat Penegak Hukum untuk mengusut tuntas peristiwa ini hingga ke akar-akarnya, menangkap seluruh komplotan pembunuh tersebut, dan menyeret mereka ke pengadilan. Jatuhkan hukuman yang seberat-beratnya berdasarkan pasal tindak pidana terorisme dan pembunuhan berencana.
Jangan biarkan rakyat Papua terus-menerus hidup dalam ketakutan dan menjadi korban penyanderaan kelompok barbar ini!” ujarnya.
Dalam perspektif kemanusiaan, Agung mengutip pemikiran filsuf Thomas Hobbes yang menyebut kondisi Homo Homini Lupus — manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Ketika nilai moral dan rasa persaudaraan ditiadakan oleh doktrin sempit, manusia kehilangan akal budi dan bertindak lebih buas dari binatang.
Kelompok OPM dinilai telah menjadikan nyawa manusia tak berdosa sebagai alat politik dan komoditas propaganda ketakutan semata.
“Tidak ada alasan ideologis, politik, maupun adat yang bisa membenarkan pembunuhan warga yang tak berdaya. Mengaku pejuang martabat rakyat namun menumpahkan darah saudara sendiri adalah kemunafikan yang memuakkan,” tambahnya.
Agung mengajak seluruh aparat keamanan dan elemen masyarakat Papua untuk bersatu menolak kehadiran kelompok kekerasan ini. Hukum harus ditegakkan dengan tegas, cermat, dan tanpa ragu.
Duka keluarga korban di Yahukimo adalah duka seluruh bangsa Indonesia.
Penegakan keadilan dengan hukuman maksimal adalah syarat mutlak agar tidak ada lagi darah rakyat sipil yang terbuang sia-sia di Tanah Cenderawasih ini, “pungkas Agung”.
Writer : Arpp🇮🇩












Leave a Reply