![]()
MabesNEWS.tv, SUMBA TIMUR — Sudah hampir satu bulan sejak kasus pengeroyokan terhadap Paulus Bali Mema terjadi. Namun, hingga kini, perkembangan penanganan perkara tersebut dinilai belum terlihat secara jelas.
Berdasarkan informasi yang diketahui keluarga korban, sejauh ini baru dua orang yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Sementara itu, tiga orang lainnya yang disebut masih di bawah umur hingga kini belum diketahui secara jelas identitas maupun proses penanganannya oleh keluarga korban.
Termasuk seseorang berinisial “R” yang menurut keterangan korban diduga kuat turut terlibat dalam aksi pengeroyokan. Hingga saat ini, pihak keluarga mempertanyakan mengapa yang bersangkutan belum terlihat diproses lebih lanjut secara hukum.
Pertanyaannya sederhana: sampai kapan kasus ini akan berjalan di tempat?
Di tengah proses hukum yang dinilai belum menunjukkan perkembangan berarti, pihak keluarga pelaku justru datang mengupayakan perdamaian secara kekeluargaan. Beberapa orang disebut telah menemui orang tua korban untuk membicarakan kemungkinan penyelesaian secara damai.
Apakah ini murni merupakan upaya keluarga pelaku untuk berdamai, atau ada pertimbangan lain di baliknya? Pihak keluarga korban mengaku tidak ingin berspekulasi terlalu jauh.
Namun demikian, mereka meminta Polres Sumba Timur memberikan penjelasan secara terbuka mengenai perkembangan penanganan kasus tersebut.
### Tawaran Perdamaian Secara Adat
Yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut adalah adanya tawaran penyelesaian secara adat dan budaya Sumba, antara lain melalui prosesi **tikam babi dan penyelampangan kain Sumba kepada korban** sebagai bentuk permintaan maaf dari pihak pelaku.
Bahkan, dalam pembicaraan tersebut disebutkan adanya kemungkinan pihak korban juga harus mengeluarkan atau mengorbankan materi apabila proses perdamaian secara adat tersebut benar-benar dilaksanakan.
Hal itu kemudian menimbulkan pertanyaan dari pihak keluarga korban:
“Perdamaian macam apa ini?”
Jika hanya sebatas prosesi adat berupa tikam babi dan penyelampangan kain, keluarga korban menilai hal tersebut bukanlah inti persoalan.
Selesai prosesi adat, daging dibagikan, kain diselempangkan, lalu apakah perkara dianggap selesai begitu saja?
Sementara itu, Paulus Bali Mema sebagai korban disebut mengalami kondisi serius akibat pengeroyokan yang dialaminya.
Lantas, bagaimana dengan proses hukum dan keadilan bagi korban?
Karena itu, sikap Paulus Bali Mema dan keluarganya hingga saat ini sangat jelas: MENOLAK TEGAS TAWARAN PERDAMAIAN dan meminta agar proses hukum tetap dilanjutkan sampai tuntas sesuai ketentuan yang berlaku.
Keluarga korban tidak sedang mencari pesta adat. Mereka sedang mencari keadilan.
### Jangan Ada “Pahlawan Kesiangan”
Di sisi lain, keluarga korban juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang kemudian mengklaim diri sebagai pihak yang paling berjasa dalam penyelesaian kasus ini hanya karena pandai berbicara, tetapi tidak pernah melakukan tindakan nyata untuk membantu korban sejak awal.
Pertanyaannya pun muncul:
Mengaku sebagai keluarga, tetapi ketika Paulus hampir kehilangan nyawa akibat pengeroyokan pada 6–7 Agustus lalu, ke mana?
Ketika korban terbaring di rumah sakit, siapa yang bersuara?
Ketika kasus ini pertama kali didorong agar mendapat perhatian publik, siapa yang ikut membantu?
Namun, ketika muncul upaya mediasi yang diinisiasi oleh pihak keluarga pelaku, tiba-tiba muncul berbagai pihak yang seolah-olah paling mengetahui dan paling mampu menyelesaikan persoalan tersebut.
Sejak awal, sejumlah wartawan senior bersama pihak yang peduli terhadap korban terus menyuarakan kasus ini kepada publik. Mereka meminta agar Polres Sumba Timur serius menangani perkara pengeroyokan Paulus Bali Mema dan memberikan kepastian hukum kepada korban serta keluarganya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada rekan-rekan media yang telah menunjukkan kepedulian sosial dengan ikut mengangkat dan mengawal kasus tersebut.
Namun, perjuangan belum selesai.
### Baru Dua Tersangka, Bagaimana dengan Pihak Lain?
Hingga saat ini, keluarga korban menyebut baru dua orang yang diketahui telah ditetapkan sebagai tersangka.
Sementara pihak lain yang diduga terlibat masih menjadi pertanyaan. Beberapa orang disebut sempat diamankan, tetapi kemudian dilepaskan karena masih di bawah umur.
Di sisi lain, sosok berinisial “R”, yang menurut keterangan korban diduga kuat ikut terlibat dalam pengeroyokan, juga masih dipertanyakan status hukumnya oleh keluarga korban.
Karena itu, keluarga korban kembali menyerukan kepada **Polres Sumba Timur** agar tidak membiarkan perkara ini berlarut-larut.
Segera tuntaskan pemeriksaan. Periksa seluruh saksi dan bukti yang ada. Apabila terdapat bukti yang cukup terhadap pihak-pihak lain yang diduga terlibat, proses sesuai hukum dan ketentuan yang berlaku.
Jangan ada tebang pilih dalam penegakan hukum.
Hampir satu bulan keluarga korban menunggu.
Jangan sampai proses hukum berjalan lambat, sementara upaya perdamaian justru berjalan begitu cepat.
Paulus Bali Mema disebut hampir kehilangan nyawanya akibat pengeroyokan tersebut. Karena itu, keluarga korban merasa berhak meminta satu hal yang sangat sederhana:
## KEADILAN.
Kasus Paulus Bali Mema akan terus dikawal hingga seluruh fakta terungkap secara terang-benderang dan proses hukum memberikan kepastian kepada korban serta keluarganya.











Leave a Reply