![]()
MabesNews.tv, Saya menulis ini sebagai orang Kodi yang menghormati adat dan warisan leluhur. Saya sudah beberapa kali mengulas persoalan biaya pesta adat karena melihat ada keluarga yang merasa harus mengeluarkan biaya di luar kemampuan mereka, bahkan sampai berutang.
Ketika persoalan tersebut dikritik, tanggapannya sering kali sama: “Berarti tidak menghargai adat,” atau “Mungkin karena tidak mampu.” Menurut saya, jawaban seperti itu justru menutup persoalan yang sebenarnya perlu kita bicarakan bersama.
Untuk memahami keadaan sekarang, kita perlu melihat terlebih dahulu apa fungsi pesta adat dalam kehidupan masyarakat Kodi. Dalam kehidupan leluhur kita, pesta bukan sekadar acara makan bersama. Pesta berkaitan dengan rumah leluhur, hubungan antarkeluarga, penghormatan kepada mereka yang telah mendahului, serta pertukaran bantuan.
Keluarga datang membawa sesuatu, ikut bekerja, dan mengambil bagian dalam berbagai peristiwa penting. Melalui kegiatan tersebut, hubungan kekerabatan dijaga dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Saya juga perlu berhati-hati ketika berbicara mengenai “awal mula” pesta adat Kodi. Sejauh yang terdokumentasi, tidak ada satu tanggal atau satu kisah tunggal yang dapat disebut sebagai awal dari semua jenis pesta adat. Tradisi lisan Kodi memiliki kisah yang dijaga oleh rumah dan garis keturunan yang berbeda.
Penelitian etnografi mencatat berbagai upacara yang berkaitan dengan siklus tahun, rumah leluhur, makam, perkawinan, dan kematian. Karena itu, lebih tepat memahami pesta adat sebagai bagian dari sejarah panjang kehidupan masyarakat Kodi, bukan sebagai satu acara yang tiba-tiba diciptakan oleh seseorang pada suatu masa.
Dalam penelitian Janet Hoskins tentang Kodi, misalnya, pesta besar woleko dicatat berkaitan dengan selesainya pekerjaan besar, seperti membangun kembali rumah leluhur atau makam batu, serta rangkaian kewajiban upacara kepada leluhur.
Penyelenggaraannya melibatkan banyak rumah tangga, tokoh upacara, dan hewan yang disumbangkan. Hal ini menunjukkan bahwa pesta pada masa lalu merupakan urusan bersama yang terhubung dengan keyakinan, kekerabatan, serta kedudukan seseorang dalam masyarakat.
### Dari Perspektif Sosiologi
Dari perspektif sosiologi, pesta adat berfungsi sebagai salah satu pengikat masyarakat. Orang membantu keluarga lain karena memiliki hubungan dan tanggung jawab timbal balik. Ketika kelak mereka membutuhkan bantuan, kerabat pun diharapkan hadir.
Penelitian tentang Kodi menyebutkan bahwa kegiatan ekonomi masyarakat masih erat kaitannya dengan organisasi kekerabatan. Pertukaran tersebut juga memperoleh makna simbolik dalam pesta adat.
Dengan demikian, hewan atau bahan makanan yang dibawa seseorang tidak selalu dapat dipahami hanya sebagai barang dengan nilai tertentu. Di dalamnya terdapat hubungan, ingatan, serta kewajiban untuk saling menopang.
Namun, pertukaran yang semula bertujuan membantu bisa terasa memberatkan apabila berubah menjadi tuntutan yang sulit ditolak.
Ketika seseorang datang bukan lagi terutama karena ingin menolong, melainkan karena takut dicatat, ditagih kembali, atau dipermalukan, hubungan sosial pun dapat berubah. Keluarga mulai menghitung: dulu kita memberi berapa, sekarang harus membalas berapa?
Menurut saya, di sinilah salah satu kemungkinan pergeseran makna itu terjadi. Semangat saling membantu masih ada, tetapi dapat tertutup oleh tekanan untuk memenuhi kewajiban.
### Dari Sisi Budaya dan Kultur
Dari sisi budaya dan kultur, kita juga perlu jujur bahwa keinginan memperoleh nama baik melalui pesta bukan sesuatu yang baru muncul pada zaman modern.
Etnografi Kodi telah mencatat adanya hubungan antara pesta, kehormatan, kepemimpinan, dan keinginan seseorang untuk dikenal luas. Pada saat yang sama, pesta juga berhubungan dengan kewajiban kepada leluhur.
Karena itu, jika hari ini terdapat unsur gengsi, kita tidak bisa menyederhanakannya dengan mengatakan bahwa “adat dulu murni, adat sekarang rusak.”
Yang perlu ditanyakan adalah: kapan keinginan menjaga nama baik menjadi lebih besar daripada kemampuan keluarga yang harus membiayainya?
### Dari Sisi Pranata Sosial
Dari sisi pranata sosial, adat pada masa lalu mengatur siapa yang terlibat, kapan upacara dilakukan, dan bagaimana sebuah keluarga dibantu oleh kerabatnya.
Ada peran rumah leluhur, tokoh upacara, keluarga pemberi dan penerima bantuan, serta kesepakatan bersama. Hoskins mencatat bahwa pesta besar memerlukan dukungan kelompok dan tidak diselenggarakan tanpa kesepakatan.
Pranata seperti ini semestinya juga menjadi ruang untuk menimbang kemampuan keluarga, bukan hanya menuntut agar seluruh kewajiban dipenuhi.
### Ketika Adat Bertemu Kehidupan Modern
Lalu, apa yang berubah ketika masyarakat memasuki kehidupan modern?
Keluarga sekarang harus memenuhi lebih banyak kebutuhan dengan uang tunai: pendidikan anak, kesehatan, transportasi, kebutuhan rumah tangga, hingga kebutuhan pekerjaan.
Sementara itu, hewan dan berbagai perlengkapan pesta juga mempunyai harga yang harus dibayar.
Menurut saya, ketika kewajiban adat yang luas bertemu dengan kebutuhan uang tunai yang mendesak, risikonya adalah keluarga mencari pinjaman agar tetap dapat memenuhi harapan sosial.
Ini adalah cara membaca persoalannya, bukan klaim bahwa semua pesta adat Kodi saat ini berakhir dengan utang.
Kita juga tidak boleh mengira bahwa tekanan biaya tersebut sama sekali baru. Penelitian terdahulu telah mencatat adanya utang dan kewajiban jangka panjang dalam pertukaran perkawinan.
Catatan tersebut penting karena menunjukkan bahwa persoalan beban ekonomi memiliki sejarah. Oleh sebab itu, solusinya pun tidak cukup dengan menyalahkan satu generasi.
Kita perlu melihat bagaimana kewajiban lama dijalankan dalam kondisi ekonomi keluarga yang kini telah berubah.
### Beban Psikososial yang Tidak Terlihat
Dari sisi psikososial, ada beban yang sering kali tidak terlihat ketika pesta berlangsung.
Keluarga bisa tampak tersenyum melayani tamu, padahal di dalam hati sedang cemas memikirkan biaya. Ada yang ingin mengadakan acara sederhana, tetapi takut disebut tidak menghargai leluhur.
Ada pula yang merasa tidak bebas menyampaikan keberatan kepada keluarga besar. Rasa malu dan takut dinilai orang dapat mendorong seseorang mengambil keputusan yang akhirnya harus ditanggung selama bertahun-tahun setelah pesta selesai.
Karena itu, kritik terhadap biaya pesta adat jangan langsung dianggap sebagai serangan terhadap budaya Kodi.
Saya justru ingin bertanya: Jika sebuah keluarga ingin menghormati leluhur tetapi hanya mampu mengadakan pesta sederhana, apakah kita mau menghormati keputusannya?
Jika mereka berkata terus terang bahwa tidak sanggup menyediakan hewan sebanyak yang diharapkan, apakah para tokoh adat dan keluarga besar bersedia mencari jalan keluar?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan apakah adat masih bekerja untuk menguatkan keluarga.
### Peran Pemerintah Kabupaten SBD
Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) perlu memfasilitasi dialog, tetapi jangan datang dengan keputusan sepihak mengenai bagaimana masyarakat Kodi harus menjalankan adat.
Duduk bersama antara tokoh adat, pemilik rumah leluhur, tokoh agama, perempuan, anak muda, dan keluarga yang pernah menanggung biaya pesta perlu dilakukan.
Bicarakan bagian mana yang dianggap pokok dalam suatu upacara, bagian mana yang dapat disesuaikan, serta bagaimana keluarga yang memilih pesta sederhana tetap mendapatkan penghormatan dan tidak menjadi sasaran celaan maupun tekanan sosial.
Saya kira kita juga perlu berhati-hati jika langsung meminta regulasi yang mengatur semua pesta dengan ukuran yang sama.
Ragam upacara dan kesepakatan antarkeluarga perlu didengar terlebih dahulu. Hasilnya bisa berupa kesepakatan adat yang jelas, yang kemudian didukung oleh pemerintah desa dan Pemerintah Daerah SBD sesuai kewenangannya.
Yang terpenting, keluarga memiliki ruang untuk berkata, “Ini kemampuan kami,” tanpa harus kehilangan penghormatan dari masyarakat.
### Adat Harus Tetap Menguatkan Keluarga
Bagi saya, pertanyaan utamanya sederhana:
Apakah pesta adat hari ini masih memperkuat kehidupan keluarga Kodi, atau dalam keadaan tertentu justru membuat mereka mengalami kesulitan setelah pesta selesai?
Kita boleh bangga pada warisan leluhur. Namun, kebanggaan tersebut harus disertai keberanian untuk mengevaluasi cara kita menjalankannya.
Adat Kodi akan tetap hidup jika masyarakatnya mampu menjaganya bersama, dengan penuh hormat, tanpa membiarkan keluarga terpaksa menanggung beban di luar kemampuan mereka.
Sumber informasi: Anis Ole
Jurnalis: Martinus Kondo














Leave a Reply