![]()
L K Ara
Di Binjai,
seorang Penyair Adiluhung
duduk gagah di kursi biasa,
seperti sultan
yang sedang turun dari takhta
untuk menemui rakyatnya.
Di tangan kirinya
rambutan merah.
Di tangan kanannya
novel Sultan yang Hilang.
Orang-orang bertanya:
“Guru,
mana yang lebih penting,
rambutan atau Sultan?”
Penyair tersenyum.
“Jangan sembarangan bertanya!
Sultan bisa hilang dari sejarah,
tetapi rambutan Binjai
kalau hilang dari tangan saya,
langsung masuk perut!”
Lalu ia membuka novel.
Halaman pertama dibaca.
Halaman kedua dibaca.
Halaman ketiga—
berhenti.
Sebab matanya
melirik rambutan lagi.
“Wah,” katanya,
“jangan-jangan Sultan ini hilang
karena sedang mencari rambutan!”
Orang-orang tertawa.
Rambutan diangkat tinggi-tinggi
seperti mikrofon.
“Wahai rakyat Binjai!
Aku menemukan sesuatu
yang lebih merah dari politik!”
Orang-orang menunggu.
“Rambutan!”
Mereka pun tertawa.
Novel tetap di pangkuan.
Sultan masih hilang.
Tetapi penyair tidak cemas.
Sebab katanya:
“Selama masih ada penyair,
yang hilang bisa dicari.
Selama masih ada novel,
yang lupa bisa diingat.
Dan selama masih ada rambutan Binjai—
biarlah dulu Sultan bersembunyi.
Kita makan dulu!”
Maka sore itu
sejarah, sastra, dan rambutan
berdamai di pangkuan
seorang Penyair Adiluhung.
Sultan belum ditemukan.
Tetapi biji rambutan
sudah tinggal dua.
Dan penyair berkata:
“Catatlah baik-baik:
kadang-kadang
untuk menemukan Sultan yang Hilang,
kita harus mulai
dengan mengupas rambutan.”











Leave a Reply