MabesNews.TV

Media Siber Mabes RI

PENYAIR ADILUHUNG, RAMBUTAN BINJAIDAN NOVEL SULTAN YANG HILANG

Loading

L K Ara

 

Di Binjai,

seorang Penyair Adiluhung

duduk gagah di kursi biasa,

seperti sultan

yang sedang turun dari takhta

untuk menemui rakyatnya.

Di tangan kirinya

rambutan merah.

 

Di tangan kanannya

novel Sultan yang Hilang.

 

Orang-orang bertanya:

 

“Guru,

mana yang lebih penting,

rambutan atau Sultan?”

 

Penyair tersenyum.

 

“Jangan sembarangan bertanya!

Sultan bisa hilang dari sejarah,

tetapi rambutan Binjai

kalau hilang dari tangan saya,

langsung masuk perut!”

 

Lalu ia membuka novel.

 

Halaman pertama dibaca.

 

Halaman kedua dibaca.

 

Halaman ketiga—

 

berhenti.

 

Sebab matanya

melirik rambutan lagi.

 

“Wah,” katanya,

“jangan-jangan Sultan ini hilang

karena sedang mencari rambutan!”

 

Orang-orang tertawa.

 

Rambutan diangkat tinggi-tinggi

seperti mikrofon.

 

“Wahai rakyat Binjai!

Aku menemukan sesuatu

yang lebih merah dari politik!”

 

Orang-orang menunggu.

 

“Rambutan!”

 

Mereka pun tertawa.

 

Novel tetap di pangkuan.

 

Sultan masih hilang.

 

Tetapi penyair tidak cemas.

 

Sebab katanya:

 

“Selama masih ada penyair,

yang hilang bisa dicari.

 

Selama masih ada novel,

yang lupa bisa diingat.

 

Dan selama masih ada rambutan Binjai—

 

biarlah dulu Sultan bersembunyi.

Kita makan dulu!”

Maka sore itu

sejarah, sastra, dan rambutan

berdamai di pangkuan

seorang Penyair Adiluhung.

Sultan belum ditemukan.

Tetapi biji rambutan

sudah tinggal dua.

Dan penyair berkata:

“Catatlah baik-baik:

kadang-kadang

untuk menemukan Sultan yang Hilang,

kita harus mulai

dengan mengupas rambutan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *