![]()
Oleh, Maman A Majid Binfas
MabesNews.tv, Kata wibawa merujuk pada kewibawaan, baik mengarah pada kekuasaan maupun pengaruh yang disegani dengan kadar yang dimilikinya.
Islam menilai orang yang berwibawa, yakni seseorang yang memiliki ketenangan batin, kedalaman iman, serta adab dan sifat takwa kepada Allah SWT, sehingga disegani orang lain. Namun, lebih dikedepankan esensi kewibawaan dalam pandangan Islam bukan bersumber dari harta atau kekuasaan, melainkan dari ilmu pengetahuan dengan pancaran iman dan kedekatan diri kepada Allah.
Orang yang benar-benar takut kepada Allah akan memancarkan wibawa alami di hadapan makhluk lainnya. Dalam surah Al-Fath ayat 29, digambarkan bagaimana para sahabat Nabi memiliki ketegasan terhadap orang kafir, namun penuh kasih sayang di antara sesama. Hal ini sebagaimana hadist Rasulullah Saw yang dinukilkan oleh HR. Bukhari yang berarti:
“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya.”
Kemudian, hadist yang diriwayat Al Uqailiy /Al Hafidz Al Ghumariy , Al Mudawiy, 1/344. yang berarti;
“Jika, seorang hamba takut kepada Allah, maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Dan jika seorang hamba tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikan, ia takut kepada segala sesuatu.”
Termasuk, kekharismatik akan nama diemban sehingga bermakna dan bertautan kepadanya. Bukan hanya sebatas artian diidentikkan saja. Misalnya, Nama Prabowo Subianto memiliki arti yang mendalam, di mana “Prabowo” berarti kepribadian yang utama dan “Subianto” berarti berhati baik.
Kombinasi nama tersebut, secara filosofis mencerminkan karakter yang kuat, keluhuran, serta kewibawaan.
Esensinya, menggambarkan sosok yang memiliki sifat, moral, dan karakter yang baik serta mulia. Bukan hampa di dalam kehampaan makna mesti diembannya.
Apalagi telah berkuasa sebagai Presiden, maka mestinya ia semakin berwibawa karena telah bermahkota presiden bukan terkesan nan sebaliknya diinisialkan tiara bah diksi londo ireng juga goblok yang dioralisasikannya.
Mungkin juga tidak atau mestinya bah bait ‘Tiara inisialin’ berikut ini. Tentu, diksinya yang kesan semakin sialan berpadatan nan bertautan atau juga sepadan yang bersalaman tanpa dimaknai dengan kegulitaan.
Tiara Inisialin
Kalau mahkota atau boleh dimaknai dengan tiara tanpa diinisialin, memang tampilannya harus mempesona di kepala sebagai lambang harga diri yang direklamekan
Jadi, inisial tiara bukan tiren, ia mesti tampil kren di layar kaca, dan bukan tiarap terselubung gaya senyapan sialan !
Kalau inisial nama tiara sebagai mutiara bermahkota yang disenyapin terus, maka sama halnya dengan jasad yang akan segera dikremasi saja !
Atau juga berinisal para akrobatik kesialan yang lain, mesti berani tampil transparan apa adanya, agar lebih menawan tanpa sial ditebarin di gunung ganang bethadapan.
Mesti disadari kehadiran medsos publik yang semakin canggih dan terbuka secara global memang daya kritis luar biasa tajam dan cekatannya semakin cerdas.
Apalagi kehadiran diksi pemimpinnya dikesankan agak sialan ke sana-sini_yang saban hari semakin tak karuan lagi ! bah ocehan liar di media sosial dituduhkannya. Namun, esensinya tidak bisa dipungkiri hal demikian, di era masa kini, tentu menjadi kebebasan mimbar publik untuk menyuarakan hak asasinya masing-masing. Tentunya, tidak mesti dinafikan dan dianggap pula sebagai ruang hampa yang terpulang kembali kepadamu/nya jua. Misalnya, bila ada yang menggores diksi berikut ini, memang tidak mesti dihindari akan kemunculannya.
“Presiden Prabowo hampa wibawa semakin ke sini koq semakin semau gue. Ketika mengganti menteri seenaknya pun tanpa beretika sama sekali. Sekalipun, menjadi hak prerogatif_nya, namun mesti dikedepankan menghargai esensi moralitas hak asasi dengan kejujuran etis apa adanya, sehingga dihargai oleh publik yang mengamanahinya.”
Dihargai sebagai esensi kejujuan yang berjiwa takbiran sesungguhnya. Manakala, esensi kejujuran bertakbiran yang dilakoninya, tentu kehadirannya akan meruntuhkan dan juga menggetarkan jiwa raga, baik oleh para perampok uang negara yang beringas maupun orang goblok sekalipun. Tentu, mereka akan menyadari dirinya atau sebaliknya para pemimpin akan segera siuman tidak korupsi/merampok yang bukan haknya.
Kejujuran Menyadarkan Perampok
Dalam sub goresan ini, akan dinukilkan kisah tentang esensi kejujuran Imam Syafi’i saat kecilnya. Di dalam buku Biografi Imam Syafi’i: Kehidupan, Sikap, dan Pendapatnya yang ditulis oleh Abdul Aziz asy-Syinawi (2013 : 17–20). Dikisahkan ketika Imam Syafii, melakukan perjalanan ke Madinah untuk belajar ilmu agama kepada Imam Malik. Saat berangkat menuntut ilmu, Ibunya membekali Imam Syafi’i uang sebanyak 400 dirham yang dijahit rapi di dalam pakaiannya. Sebelum berangkat, ibunya berpesan agar ia selalu berkata jujur dan tidak pernah berdusta dalam situasi apa pun. Imam Syafi’i berjanji untuk menepatinya. Singkat cerita, di tengah perjalanan, kafilah atau rombongan yang ditumpangi Imam Syafi’i dicegat oleh sekelompok perampok.
Kemudian, para perampok menjarah seluruh harta benda rombongan. Karena Imam Syafi’i kecil tampak tenang dan tidak membawa barang di luar, perampok tidak meriksanya. Namun, pemimpin perampok lantas bertanya kepada Imam Syafi’i, apakah ia membawa sesuatu?
Imam Syafi’i kecil dengan polos dan jujur menjawab bahwa ia menyimpan 400 dirham yang dijahit di balik bajunya.
Kemudian, pemimpin perampok mengira anak kecil itu sedang bergurau atau tidak waras. Saat diminta membuktikannya, Imam Syafi’i mengeluarkan uang 400 dirham tersebut.
Lalu, pemimpin perampok keheranan dan bertanya, mengapa, ia jujur ! padahal tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan uang tersebut.
Imam Syafi’i menjawab dengan polosnya bahwa ia telah berjanji kepada ibunya untuk selalu jujur, dan ia takut melanggar janji itu.
Mendengar jawaban polos tersebut, maka hati sang pemimpin perampok bergetar hebat. Ia merasa malu; seorang anak kecil begitu takut melanggar janji kejujuran kepada ibunya, sementara ia sendiri terang-terangan melanggar perintah Allah sebagai perampok.
Akhirnya, pemimpin perampok dengan seketika menangis, menyatakan bertaubat. Lalu mengembalikan seluruh harta rampasan milik rombongan Imam Syafi’i tersebut tanpa kecuali.
Kisah cerita singkat tentang wibawa kejujuran yang bertakbiran polos dan tulus tanpa polesan sehingga batu cadas kebengisan hati pemimpin perampok pun bergetar runtuh dengan sendirinya tak terbantahkan.
Sama halnya dengan esensi dari namanya yang bermakna kewibawa_an Presiden Prabowo. Dan akan lebih aduhai lagi bila seiring pula dengan durasi diksi kejujuran ditakbirkan nan polos apa adanya. Hal demikian yang akan bercermin dengan sendirinya, sebagaimana kisah kesadaran sang pemimpin para perampok di atas.
Tentu, tidak perlu lagi untuk berngos-ngosan di dalam membantahin radiasi dari pelintiran tentang durasi diksi dari orasinya. Namun, kehadiran diksi pelintiran bisa terjadi, memang secara jujur akibat dari esensi pidato yang dikesankan agak sepontan kurang elokan. Dan esensi kesannya berlebihan retoris yang berpelontar-pelanturan, sehingga tanpa berwibawa sebagai tiara pemimpin yang diidetikan.
Jadi, kalau tidak mau dipelintir, ya, jangan pula dilontar lanturin diksinya retoris kurang etis. Baik di dalam berorasi atau berocehan agar tiara kewibawa_an sebagai Presiden Republik Indonesia yang sesungguhnya. Berhingga berkalam pada diksi yang berinsial husnul khatimah sebagaimana diharapkan di dalam bersalam_ Wallahualam.












Leave a Reply