![]()
Oleh: Dr. Nursalim, M.Pd.
Ketua APEBSKID Provinsi Kepulauan Riau
Hari ini, 24 September 2026, Provinsi Kepulauan Riau memperingati Hari Jadi ke-24. Dua puluh empat tahun bukanlah perjalanan yang singkat. Di balik angka tersebut terdapat sejarah panjang, perjuangan, pengorbanan, harapan, serta kenangan masyarakat Kepulauan Riau dari masa ke masa. Hari jadi ini semestinya tidak hanya dipandang sebagai seremoni tahunan, tetapi sebagai momentum untuk kembali membuka lembaran sejarah dan bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita menghargai perjuangan para pendahulu dan menjaga masa depan negeri yang kita cintai ini? Secara resmi, tanggal 24 September ditetapkan sebagai Hari Jadi Provinsi Kepulauan Riau melalui Perda Provinsi Kepri Nomor 4 Tahun 2005.
JDIH Kabupaten Kepulauan Riau
Bagi saya, sebagai Ketua APEBSKID, Afiliasi Pengajar, Penulis Bahasa, Sastra, Budaya, Seni dan Desain Provinsi Kepulauan Riau, Kepri bukan sekadar sebuah wilayah administratif. Kepri adalah ruang kehidupan yang menyimpan sejarah, kebudayaan, bahasa, tradisi, dan perjalanan masyarakat yang sangat panjang. Jauh sebelum menjadi provinsi tersendiri, Kepulauan Riau telah memiliki jejak sejarah yang kuat. Setelah Indonesia merdeka, wilayah Kepulauan Riau kemudian menjadi bagian dari Provinsi Riau. Perjalanan sejarah tersebut akhirnya melahirkan perjuangan untuk membentuk Provinsi Kepulauan Riau sebagai provinsi tersendiri.
Perjuangan itu bukan sesuatu yang tiba-tiba. Ada aspirasi masyarakat yang menginginkan rentang kendali pemerintahan lebih dekat dengan masyarakat kepulauan. Perjuangan pembentukan provinsi kemudian dilakukan melalui berbagai tahapan, termasuk melalui Badan Perjuangan Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau atau BP3KR. Pada 24 September 2002, melalui Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2002, Kepulauan Riau resmi menjadi provinsi ke-32 Republik Indonesia. Secara operasional, pemerintahan provinsi mulai berjalan pada 1 Juli 2004.
Karena itu, ketika berbicara tentang Kepri hari ini, kita sesungguhnya sedang berbicara tentang perjalanan dari sebuah wilayah yang dahulu berada dalam Provinsi Riau hingga menjadi provinsi yang memiliki pemerintahan sendiri. Dari Tanjungpinang, Batam, Bintan, Karimun, Natuna, Kepulauan Anambas, hingga Lingga, setiap daerah memiliki cerita masing-masing. Ada cerita tentang masyarakat pesisir, nelayan, pedagang, pelaut, guru, ulama, budayawan, seniman, pekerja, pengusaha, serta generasi muda yang ikut membangun wajah Kepri hari ini.
Bagi saya, kenangan tentang Kepri tidak boleh berhenti pada nostalgia. Kenangan harus menjadi energi untuk melanjutkan perjuangan. Kita boleh mengenang masa lalu, tetapi jangan sampai terjebak di dalamnya. Kita harus menjadikan sejarah sebagai cermin untuk melihat apa yang sudah dilakukan, apa yang belum selesai, dan apa yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebuah daerah akan kehilangan arah apabila generasinya tidak lagi mengenal sejarah tempat mereka berpijak.
Kepri juga memiliki keunikan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Ia merupakan provinsi kepulauan yang secara geografis berada pada posisi strategis, berdekatan dengan Singapura dan Malaysia serta berada di kawasan jalur perdagangan dan pelayaran internasional. Karena itu, Kepri memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai pusat ekonomi, perdagangan, maritim, pariwisata, pendidikan, dan kebudayaan. Pemerintah Provinsi Kepri sendiri pada peringatan tahun ini mengangkat tema “Dari Penyengat, Menyatukan Semangat, Kepri Maju Berkelanjutan”, yang menempatkan sejarah dan persatuan sebagai bagian dari perjalanan menuju masa depan.
Namun, kemajuan tidak boleh hanya diukur dari gedung-gedung tinggi, kawasan industri, jalan, pelabuhan, bandara, atau pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga harus terlihat dari semakin kuatnya karakter masyarakat, semakin baiknya pendidikan, semakin terpeliharanya budaya Melayu, semakin dihargainya bahasa daerah, serta semakin kuatnya persaudaraan antarmasyarakat. Pembangunan fisik harus berjalan bersama pembangunan manusia. Modernisasi tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar sejarah dan identitas budayanya.
Di sinilah pendidikan mempunyai peran yang sangat penting. Sekolah dan perguruan tinggi harus menjadi tempat generasi muda mengenal sejarah Kepri secara lebih dekat. Anak-anak Kepri perlu mengetahui mengapa 24 September diperingati sebagai hari jadi provinsi mereka. Mereka juga perlu mengenal Pulau Penyengat, sejarah Kesultanan Riau-Lingga, perjuangan pembentukan provinsi, perkembangan Batam, kehidupan masyarakat pesisir, serta kekayaan bahasa dan sastra Melayu. Sejarah tidak cukup dihafalkan untuk menjawab soal ujian; sejarah harus dihayati agar melahirkan rasa memiliki.
Bahasa dan budaya juga harus menjadi bagian penting dari pembangunan Kepri. Di tengah arus globalisasi, teknologi digital, mobilitas penduduk, dan perkembangan industri, bahasa Melayu serta kebudayaan lokal menghadapi tantangan baru. Karena itu, pelestarian budaya bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya, budaya harus mampu berdialog dengan zaman. Nilai-nilai Melayu seperti sopan santun, musyawarah, gotong royong, amanah, marwah, dan penghormatan kepada orang tua harus tetap hidup di tengah masyarakat modern.
Kepri hari ini tentu sudah berbeda dengan Kepri puluhan tahun lalu. Perubahan tersebut merupakan bagian dari dinamika pembangunan. Batam berkembang sebagai kawasan industri dan perdagangan, Tanjungpinang tetap memiliki kedudukan penting sebagai pusat pemerintahan dan sejarah, sementara daerah-daerah kepulauan lainnya memiliki potensi maritim, perikanan, pertanian, pariwisata, serta kekayaan budaya masing-masing. Semua potensi itu merupakan kekuatan bersama yang harus dirawat secara adil dan berkelanjutan.
Saya melihat perjalanan Kepri dari perspektif sejarah sebagai sebuah perjalanan yang membanggakan. Bahkan, dalam pandangan masyarakat Kepri, perkembangan daerah ini menunjukkan bahwa setelah berdiri sebagai provinsi tersendiri, Kepri mampu tumbuh dengan karakter dan kekuatannya sendiri. Pernyataan bahwa Kepri bahkan lebih maju daripada provinsi induknya dapat ditempatkan sebagai kebanggaan dan pandangan masyarakat, tetapi kemajuan seharusnya tetap diukur dengan indikator yang jelas, bukan sekadar perasaan atau kebanggaan daerah. Yang terpenting adalah bagaimana kemajuan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat di seluruh pulau.
Peringatan Hari Jadi ke-24 ini juga seharusnya menjadi momentum untuk mengingat para tokoh dan masyarakat yang pernah berjuang dalam proses pembentukan Kepri. Mereka mungkin tidak semuanya tercatat dalam buku sejarah. Sebagian mungkin hanya dikenang oleh keluarga dan masyarakat di lingkungannya. Namun, setiap perjuangan memiliki nilai. Provinsi yang kita nikmati hari ini lahir dari rangkaian gagasan, keberanian, kerja keras, dan aspirasi masyarakat yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Kepri bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Karena itu, generasi sekarang mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan estafet tersebut. Kita harus membangun Kepri yang maju tanpa kehilangan jati diri, modern tanpa meninggalkan budaya, terbuka terhadap dunia tetapi tetap memiliki karakter, serta berkembang secara ekonomi tanpa melupakan masyarakat kecil yang hidup di pulau-pulau.
Pada akhirnya, 24 tahun Kepri adalah perjalanan sejarah yang tidak boleh terlupakan. Dari masa ketika Kepulauan Riau menjadi bagian dari Provinsi Riau, perjuangan pembentukan provinsi, hingga menjadi Provinsi Kepulauan Riau seperti sekarang, semuanya merupakan rangkaian sejarah yang harus diwariskan kepada generasi mendatang. Kita boleh berbeda profesi, suku, agama, pulau, dan latar belakang, tetapi kita memiliki rumah bersama bernama Kepulauan Riau.
Selamat Hari Jadi ke-24 Provinsi Kepulauan Riau. Semoga semangat sejarah tidak berhenti menjadi kenangan, tetapi berubah menjadi kekuatan untuk membangun masa depan. Dari Penyengat, kita menyatukan semangat; dari sejarah, kita belajar; dan dari Kepri, kita menatap masa depan dengan amanah dan marwah.











Leave a Reply