![]()
L K Ara
Ada pertanyaan yang berkali-kali diajukan kepada saya: mengapa masih menulis syair epos di zaman yang serba cepat ini? Mengapa memilih kembali menelusuri jejak Linge, Serule, adat, hutan, gunung, dan kisah para leluhur, ketika dunia lebih sibuk berbicara tentang teknologi, kecerdasan buatan, dan masa depan?
Jawabannya sederhana: karena sebuah bangsa yang kehilangan ingatan akan kehilangan arah.
Saya lahir dan dibesarkan di tanah Gayo. Sejak kecil saya mendengar kisah-kisah yang tidak pernah ditulis dalam buku pelajaran. Kisah itu hidup di beranda rumah, di balai kampung, di suara para tetua, di dalam didong, di sela-sela panen kopi, dan di doa-doa yang dipanjatkan sebelum matahari terbit.
Sayangnya, semakin hari saya melihat kisah-kisah itu semakin sunyi. Para penuturnya satu demi satu berpulang. Generasi muda lebih mengenal cerita dari negeri yang jauh daripada kisah yang tumbuh di tanahnya sendiri. Saya khawatir, suatu saat nanti orang Gayo hanya mengenal Linge sebagai nama tempat, bukan sebagai akar peradaban.
Karena itulah saya menyusun Syair Epos Gayo: Asal Linge, Awal Serule.
Buku ini bukan sekadar kumpulan syair. Ia adalah ikhtiar menyusun kembali serpihan ingatan yang tercecer. Saya ingin mempertemukan sejarah, legenda, adat, alam, dan spiritualitas dalam satu alur yang dapat dibaca lintas generasi.
Saya menyadari bahwa tidak semua bagian dari kisah masa lalu dapat dibuktikan secara historis. Ada wilayah yang menjadi ranah sejarah, ada pula yang hidup sebagai tradisi lisan dan memori kolektif masyarakat. Keduanya memiliki nilai penting. Sejarah memberi pijakan pada fakta, sedangkan tradisi memberi makna pada identitas. Epos ini berusaha menghormati keduanya.
Saya juga percaya bahwa peradaban tidak pernah lahir hanya dari kekuasaan. Peradaban tumbuh dari manusia yang menjaga tanahnya, memelihara hutannya, menghormati adatnya, dan memuliakan ilmu pengetahuan. Itulah sebabnya Serule dalam epos ini saya maknai bukan sekadar nama, melainkan lambang kehidupan; sedangkan Linge saya tempatkan sebagai simbol akar peradaban Gayo.
Di dalam syair ini saya ingin menunjukkan bahwa alam bukan hanya latar cerita. Gunung, danau, sungai, hutan, dan kopi adalah bagian dari jiwa orang Gayo. Jika alam rusak, maka bukan hanya lingkungan yang hilang, tetapi juga bahasa, adat, dan cara hidup yang diwariskan leluhur.
Epos ini juga merupakan penghormatan kepada para pendahulu yang membangun masyarakat tanpa meninggalkan banyak tulisan. Mereka meninggalkan jejak melalui adat, musyawarah, gotong royong, dan kebijaksanaan hidup. Nilai-nilai itulah yang ingin saya abadikan dalam bentuk syair.
Saya memilih bentuk syair karena syair memiliki daya ingat yang panjang. Sejak dahulu, masyarakat Nusantara mewariskan pengetahuan melalui irama dan bait. Syair lebih mudah dihafal, dilantunkan, dan diwariskan daripada sekadar catatan sejarah yang kering. Saya berharap karya ini dapat dibaca, dipentaskan, bahkan dinyanyikan, sehingga kembali hidup di tengah masyarakat.
Lebih jauh lagi, saya berharap Syair Epos Gayo: Asal Linge, Awal Serule dapat menjadi jembatan antara sastra dan ilmu pengetahuan. Para sejarawan dapat mengkajinya, budayawan dapat mendiskusikannya, seniman dapat menghidupkannya di panggung, dan generasi muda dapat menjadikannya pintu untuk mengenal akar budayanya.
Saya tidak mengklaim bahwa karya ini adalah penutup dari kisah Gayo. Justru sebaliknya, saya berharap ia menjadi pembuka percakapan yang lebih luas. Jika setelah membaca epos ini muncul penelitian baru, ditemukan naskah baru, atau lahir penyair-penyair muda yang melanjutkan perjalanan ini, maka tujuan saya telah tercapai.
Pada akhirnya, saya menulis bukan untuk mengejar kemasyhuran. Saya menulis agar suatu hari nanti, ketika orang bertanya dari mana peradaban Gayo bertumbuh, masih ada sebuah karya yang berusaha menjawabnya dengan bahasa sastra.
Sebab saya percaya, bangsa yang besar bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga menjaga ingatan. Dan sastra adalah salah satu cara paling setia untuk merawat ingatan itu.












Leave a Reply